Page 116 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 NOVEMBER 2019
P. 116
Title WASPADA! POTENSI TKI TERJERUMUS RADIKALISME CUKUP TINGGI
Media Name krjogja.com
Pub. Date 13 November 2019
https://krjogja.com/web/news/read/114525/Waspada_Potensi_TKI_Terjerumu
Page/URL
s_Radikalisme_Cukup_Tinggi
Media Type Pers Online
Sentiment Negative
Direktur Migrant Care Wahyu Susilo menyatakan kalangan pekerja migran Indonesia
mengalami kondisi rentan sehingga bisa terpapar radikalisme. Pelaku serangan bom
bunuh diri di Tanah Air bahkan ada yang berasal dari latar-belakang pekerja migran.
Hal itu dikemukakan Wahyu dalam diskusi Indonesia Forum yang digelar di
University of Melbourne, Senin 11 November 2019.
"Bayangan kita 'kan mereka yang melakukan aksi terorisme adalah yang tergabung
di organisasi Islam garis keras," kata Wahyu sebagaimana dilansir ABC Indonesia,
Selasa (12/11/2019).
"Mungkin (ada) dari unsur mereka juga, tapi ternyata dari kelompok-kelompok
pekerja yang rentan ini juga sudah mulai muncul," ujarnya.
Menurutnya, kelompok yang rentan terpapar radikalisme tidak lain adalah kelompok
yang masuk dalam golongan prekariat.
Antropolog dan dosen di Universitas Sebelas Maret Solo, Aris Mundayat yang juga
hadir dalam diskusi itu, mengatakan definisi prekariat di abad ke-21 ini berbeda
dengan pengertiannya di abad ke-19.
Ia mengatakan bahwa di masa ini, pekerja migran harus terlebih dahulu
mengeluarkan modal untuk dapat bekerja. Hal ini menimbulkan kondisi precarious
atau rentan.
"Kenapa mereka precarious? Ketika mereka berangkat mereka sudah harus
mengeluarkan modal, kalau ke Hongkong mungkin 20-30 juta rupiah," kata dia.
"Artinya apa? Tekanan, deprivasi dan juga prekaritas sangat tajam dan sangat kuat
sehingga kemudian tidak ada kepastian masa depan mau apa. Satu-satunya jalan
pergi ke agama."
Dian Novi dan Ika Puspitasari, pekerja migran Indonesia yang menurut Wahyu
adalah generasi pertama perempuan pelaku tindakan bom bunuh diri, jadi contoh.
Page 115 of 124.

