Page 117 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 NOVEMBER 2019
P. 117
"Ini perubahan sebenarnya. Dari ekstrimisme kekerasan yang pada dulunya
mendomestikasi (atau menjinakkan) perempuan pada pekerjaan-pekerjaan di
belakang," katanya.
"Tapi kemudian ada konstelasi politik di mereka. Kalau beberapa orang melihat, ada
perubahan dari Jamaah Islamiah ke Jamaah Ansharut Daulah misalnya kalau di
Indonesia."
Antropolog dan dosen di Universitas Sebelas Maret Solo, Aris Mundayat bercerita
tentang wawancaranya dengan pekerja migran di Jember, Wonosobo dan
Indramayu yang pernah bekerja di Hongkong, Taiwan, Singapura dan Malaysia.
Ia mengatakan melihat adanya proses menarik tentang bagaimana mereka terpapar
radikalisme sampai ke tingkat ekstrem.
"Sebelum mereka berangkat sebenarnya mereka masih ada di dalam ruang
kebudayaan yang relatif plural dan multikultural. Paling tinggi tingkat keagamaannya
adalah konservatisme yang masih OK," kata dia.
"Orang seperti Ika ataupun Dian dulunya sangat pluralis, pernah mewarnai
rambutnya warna biru, merah dan pakaiannya biasa."
"Semua seperti itu. Tapi kemudian berubah. Sebagian yang berubah ini dibajak oleh
kelompok ISIS," tambahnya.
Aris melihat adanya proses bersentuhan antara pekerja migran perempuan ini
dengan kelompok-kelompok fundamentalis melalui pertemuan-pertemuan agama di
negara tempat mereka bekerja.
Dalam pertemuan itu, ia mengatakan bahwa perempuan diajarkan cara membangun
jejaring sebagai bekal ilmu yang membuat mereka tidaklah lagi pasif.
"Oleh karena itu kaum perempuan ini tidak bisa dilihat selalu di dalam banyak
pemberitaan sebagai 'korban dari laki-laki' atau 'diajak laki-laki', karena mereka
aktif," terang Aris.
"Jadi mereka membangun jaringan, mendanai, aktif menggerakkan. Jadi mereka
aktif. Bukan lagi pasif."
Keaktifan perempuan yang dimaksud Aris ditemukan dalam peran mereka sebagai
agen dan aktan yang memproduksi nilai-nilai radikalisme sampai pada titik violent
extremism.
"Aktan artinya punya kemampuan yang aktif dalam membangun jaringan dan
berpengaruh di dalam jaringan," kata Aris kepada Natasya Salim dari ABC
Indonesia.
Page 116 of 124.

