Page 31 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 MARET 2020
P. 31

Jokowi memang patut khawatir dengan iklim investasi di Indonesia. Pada periode
               pertama kepemimpinannya, Jokowi belum maksimal dalam mendongkrak laju
               investasi. Landainya investasi di Indonesia terlihat dari penurunan realisasi investasi
               dari 32,1 miliar dolar AS (2017) menjadi 29,8 miliar dolar AS pada 2018. Jokowi
               makin geram ketika 33 perusahaan Tiongkok yang merelokasi industrinya akibat
               perang dagang dengan Amerika Serikat lebih memilih Vietnam dan Malaysia
               ketimbang Indonesia.

                Maka tidak salah, berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF) dengan judul
               Global Competitiveness Index (GCI) 2019, peringkat Indonesia turun dari posisi 45
               ke 50 dari 141 negara. Lebih lanjut daya saing Indonesia juga turun ke posisi 64,6.


                Maka, omnibus Law menjadi instrumen Jokowi untuk mendukung proyek
               populisnya "Jokowinomics'". Karena itu, investasi perlu ditarik sebesar-besarnya di
               tengah pembiayaan APBN yang sangat terbatas. Agar mampu menggenjot target
               pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan 5,4-6,0% dalam Rencana Pembangunan
               Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, investasi perlu dipermudah. Dan,
               jalan mengambil alih langsung kemudi perizinan dan menghapuskan aturan
               bermasalah (perda) dilakukan.

                Khusus soal perizinan, publik berhak bertanya soal seberapa kuat kapasitas pusat
               mengefisiensikan perizinan. Misalnya berkaitan dengan korupsi perizinan yang
               selama ini dikeluhkan investor. Apakah secara otomatis praktik pungli (pemburuan
               rente) akan hilang? Bukankah zaman Orde Baru telah memberikan bukti bahwa
               perizinan pusat menjadi tempat bancakan elite politik dan pemerintahan? Publik
               berhak kritis karena nyatanya reformasi birokrasi pusat sepenuhnya belum berhasil
               sehingga rentan menggeser pungli dari daerah ke pusat.

                Mengkonsentrasikan Kekuasaan  Kedua, secara politis Jokowi akan sangat
               diuntungkan. Bisa jadi ini upaya Jokowi untuk mengkonsentrasikan kekuasaan demi
               menaikkan  bargaining  politiknya yang kerap lemah di hadapan oligarki politik di
               lingkaran kekuasaannya.

                Jokowi memang sering dianggap presiden terlemah di Indonesia setelah Gus Dur.
               Berposisi bukan sebagai elite partai apalagi veto player, Jokowi kerap kesulitan
               mengkonsolidasikan kekuasaannya. Beberapa kali kabinetnya gaduh di muka publik,
               keinginannya yang tidak direstui koalisi (kasus pencalonan Mahfud MD sebagai
               Wapres), hingga statusnya yang dianggap sebagai petugas partai oleh PDIP. Jokowi
               butuh kekuatan politik baru untuk mengimbangi atau setidak-tidaknya keluar dari
               tekanan Megawati sebagai Ketua Umum PDIP.

                Dengan menguasai izin pertambangan dan mineral, semua kekuatan bisnis terkait
               akan berlomba-lomba mendekat ke Jokowi. Ini dapat dimanfaatkan Jokowi untuk
               menarik kekuatan-kekuatan alternatif yang punya finansial kuat sebagaimana ketika
               Jokowi menarik Luhut Panjaitan untuk mengimbangi dominasi PDIP.


                Pun sama dengan pemerintah daerah yang juga sangat butuh kehadiran investasi
               untuk menggerakkan perekonomian lokalnya. Investor hanya akan masuk jika



                                                       Page 30 of 175.
   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36