Page 81 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 MARET 2020
P. 81
Padahal, hasil konsultasinya bersama dokter kandungan, Dini diminta untuk tidak
melulu bergadang.
"Waktu itu minta nonshift karena ada riwayat rahim lemah, tapi dari perusahaan
enggak dikasih. Alasannya karena yang hamil bukan saya doang," ujar Dini.
Sejak keguguran itu, Dini dirumahkan satu bulan setengah atau 45 hari. Dini waktu
itu terpaksa melakukan operasi kuret.
Ironis, biaya berobat setelah kuret itu tidak ditanggung oleh perusahaan yang
terletak di kawasan MM2100 tersebut.
"Biaya kuret waktu itu pakai jaminan kesehatan, tapi biaya berobat Rp 800 ribu
pakai uang sendiri. Cuma enggak diganti oleh perusahaan," imbuhnya.
Hak Jawab
PT Alpen Food Industry (es krim Aice) memberikan hak jawab terkait aksi mogok
kerja yang dilakukan buruhnya.
Berdasar rilis yang diterima Suara.com, Legal Corporate PT AFI Simon Audry
Halomoan Siagian mengklaim telah mengikuti regulasi yang ada untuk menjawab
tuntutan massa aksi.
Selain sistem pengupahan, PT AFI juga diduga melakukan tindakan eksploitasi
kepada pekerja wanita hamil.
Disebut-sebut, banyak pekerja yang mengalami keguguran karena porsi kerja yang
berat.
Terkait hal ini, Simon mengklaim telah mematuhi aturaan mengenai keselamatan
kerja seperti yang tertuang dalam Pasal 76 ayat (2) UU 13/2003.
"Kami memiliki tim medis yang bertugas di dalam operasional. Mereka secara rutin
memberikan cek medis secara berkala termasuk bagi rekan pekerja yang sedang
mengandung untuk tidak melakukan pekerjaan berat, terutama saat shift malam,"
klaim Simon.
Lebih lanjut kata Simon, PT AFI juga melakukan verifikasi kepada pekerja yang
mengalami keguguran melalui pengecekan surat dokter.
"Tidak pernah ada diagnosis yang menerangkan pekerja keguguran karena
melakukan pekerjaan terlalu berat," klaimnya lagi.
Page 80 of 175.

