Page 81 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 DESEMBER 2019
P. 81
Migrant Care Indonesia Anis Hidayah dalam keterangan tertulisnya, Selasa
(3/12/2019).
Kejanggalan tercium ketika pemerintah Hong Kong mendepak Yuli Riswati dengan
alasan visa kerja Yuli yang sudah habis masa berlakunya sejak 19 Agustus 2019.
Visa Yuli Riswati memang sudah habis, tetapi atasan kerja Yuli Riswati mengatakan
bahwa dirinya masih memiliki perjanjian kerja yang berlaku dan berjanji akan
memperpanjang izin kerjanya.
Apabila ada jaminan dari tempat kerja, pihak imigrasi Hong Kong pun akan
mempersilahkan untuk memperpanjang izin kerja.
Namun yang dialami Yuli Riswati justru ditangkap polisi Hong Kong di tempat
tinggalnya, lalu menangannya dalam ruang tahanan di Pusat Imigrasi Castle Peak.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengatakan
bahwa tindakan kepolisian Hong Kong semacam itu termasuk ke dalam tindakan
yang agresif.
"Tindakan kepolisian Hong Kong terhadap Yuli merupakan bentuk pemolisian yang
agresif. Tindakan itu melanggar kewajiban Pemerintah Hong Kong di bawah standar
maupun hukum internasional hak-hak asasi manusia," ujar Usman.
Di balik perlakuan pihak kepolisian Hong Kong tersebut, justru ada dugaan kuat
kalau pemerintah Hong Kong menangkap Yuli Riswati karena karya tulisnya di
Harian SUARA, tempat Yuli Riswati bekerja. Dalam tulisan Yuli itu mengandung nada
protes kepada pemerintah Hong Kong yang membungkam kebebasan ekspresi yang
seharusnya tak mengenal batas negara.
Untuk diketahui, Yuli Riswati, pekerja migran Indonesia yang menulis tentang protes
pro-demokrasi Hong Kong telah dideportasi karena masalah visa. Ia menyebut telah
"dibohongi" oleh petugas imigrasi.
Disadur dari Hong Kong Free Press, Senin (2/12/2019), Yuli Riswati adalah seorang
penulis pemenang penghargaan dan pekerja rumah tangga di Hong Kong.
Ia ditahan Castle Peak Bay Immigration Centre (CIC) pada Senin (4/11/2019)
karena gagal memperpanjang visanya.
Menurut kelompok pendukungnya, mengatakan Yuli telah ditekan untuk
membatalkan perpanjangan visanya.
Dalam pernyataannya, Yuli Riswati mengatakan bahwa seorang petugas imigrasi
"mengelabui" dirinya dan mengatakan kepadanya pada Senin pagi bahwa
pemerintah telah mencoba untuk memanggil pengacara, tetapi nyatanya tidak ada.
Page 80 of 82.

