Page 74 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 JULI 2019
P. 74

Di sisi lain, penempatan ke Asia Pasifik yang kini menjadi idola bukan tidak sarat
               masalah. Sebut saja penempatan PMI ke Malaysia yang tercatat di pemerintah
               Indonesia sebanyak 2.000-3.000 buruh migran setiap bulannya. Data di Malaysia
               sekitar 6.000-7.000, dan data di Imigrasi Malaysia bisa mencapai 15.000 WNI yang
               masuk ke negeri jiran tersebut.

               Perbedaan data 3.000 menurut Indonesia dan 7.000 menurut Malaysia
               menunjukkan 4.000 PMI yang bekerja secara unprocedural (ilegal). Mereka tidak
               terlindungi karena tidak terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan dan rentan bermasalah.

               Mereka yang 4.000 itu patut diduga tidak kompeten dan tidak terampil karena tidak
               melalui lembaga pelatihan yang disyaratkan, tidak fit karena tidak melalui
               pemeriksaan kesehatan yang ditunjuk dan tidak terlindungi karena tidak terdaftar di
               BPJS Ketenagakerjaan. Artinya lagi, jumlah mereka lebih banyak dibandingkan
               mereka yang berangkat sesuai prosedur.

               Keluhan majikan Di sisi lain, Kedubes RI di Malaysia menerima keluhan (komplain)
               karena gaji PMI dipotong 3-6 bulan untuk mencicil biaya penempatan. Artinya, PMI
               menikmati upah penuh hanya 18 hingga 21 bulan saja dari kontrak dua tahunnya.
               Kondisi ini dinilai tidak manusiawi.

               Majikan juga mengeluh karena mereka sudah membayar 18.000 ringgit (setara
               Rp59 juta) tetapi masih ada PMI yang kabur setelah bekerja 2-3 bulan. Bahkan, ada
               yang kabur dalam hitungan pekan. Jadi, tidak heran jika Dubes RI Rusdi Kirana
               melontarkan pernyataan untuk menghentikan sementara (moratorium) penempatan
               negeri semenanjung itu.

               Moratorium adalah "bola liar". Artinya, sekali moratorium diberlakukan maka untuk
               membukanya tidak mudah karena terkait dengan kebutuhan (demand ) dan
               pasokan ( supply ). Bisa juga muncul ketersinggungan diplomatik, harga diri suatu
               bangsa, dan sebagainya.

               Pemerintah Indonesia dahulu melakukan moratorium (penutupan sementara)
               penempatan ke timur tengah dan hingga hari ini tidak kunjung dibuka. Sementara
               yang berangkat secara ilegal terus terjadi.

               Siapa yang membutuhkan Menilik lebih dalam, sesungguhnya, siapa yang
               membutuhkan program penempatan PMI ini? Negara penerima ( user ) atau negara
               penyedia ( supplier ). Sesungguhnya berlaku hukum ekonomi di sini, karena itu
               dahulu dikatakan ekspor jasa TKI (lalu dihaluskan menjadi penyedia jasa), dimana
               kedua belah pihak saling membutuhkan.

               Hukum ekonomi menyatakan barang berkualitas bernilai tinggi. Pengguna akan
               memilih yang berkualitas meski dengan harga mahal. Barang murah akan mudah
               dilepas dan dicari penggantinya.






                                                       Page 73 of 104.
   69   70   71   72   73   74   75   76   77   78   79