Page 75 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 JULI 2019
P. 75
PMI (dahulu TKI) adalah pekerja yang ulet, sabar dan baik hati. Bahkan di timur
tengah sekali pun, meski terkendala bahasa, masih tetap jadi primadona.
Majikan Arab kini menjaga pekerjanya agar betah dengan kompensasi upah tinggi,
fasilitas libur (istirahat) dalam sepekan dan perlakuan manusiawi. Karena, sekali PMI
pulang maka akan susah mencari pengganti.
Di sisi lain, PMI tak berkualitas akan rentan dengan masalah karena tidak terlatih.
Ibu rumah tangga dalam negeri saja acap naik darah jika asisten rumah tangganya
yang baru tidak tahu menggunakan peralatan sederhana. Lontaran percakapan di
kalangan ibu-ibu, asisten (pembantu) baru berarti siap-siap beli peralatan baru.
Karena itu, problema PMI sesungguhnya 90 persen berada di dalam negeri.
Ada anggapan sebaiknya Indonesia tidak menempatkan pekerja informal (kata lain
untuk penata laksana rumah tangga) karena rentan masalah. Namun sayangnya,
sebagian besar angkatan kerja Indonesia masih tidak tamat atau hanya tamat SD.
Angkanya 60 persen untuk angkatan kerja tamat SMP ke bawah.
Bukan obyek subsidi Pemerintah harus mulai dari mana? Apakah harus terus
memberi subsidi, bantuan sosial dan sebagainya kepada pekerja yang minim
pendidikan ini? Lalu setiap lima tahun sekali menjadi isu politik karena dituduh
menjadi modus "membeli" suara melalui berbagai bentuk bantuan sosial? Hal yang
bijak adalah menyikapi dengan arif. Inilah kondisi sosial bangsa ini. Apakah mereka
tidak bisa bekerja? Mereka masih tetap bisa bekerja di berbagai bidang di banyak
negara.
Di Jepang, Taiwan, Korea, Singapura, negara-negara di timur tengah dan banyak
negara lainnya membutuhkan helper (pembantu) untuk merawat orang tua. Usia
penduduk senja mereka terus meningkat karena usia harapan hidup terus
bertambah.
Banyak negara yang membutuhkan asisten rumah tangga untuk menata, bersih-
bersih, memasak, mencuci, merawat anak. Mereka membutuhkan sopir, perawat
halaman, tanaman, kebun, dan pekerjaan kerah biru lainnya.
Peluang jasa konstruksi masih besar karena pembangunan fisik tak pernah berhenti.
Sementara pada pekerjaan terampil ( skill dan formal) seperti bekerja di pabrik,
tambang, perminyakan, IT, pariwisata, hotel, perikanan dan lainnya sudah
menemukan jalannya. Sistem informasi memudahkan anak Indonesia yang terdidik
untuk merebut peluang kerja global.
Lalu apa yang harus dilakukan kepada pekerja tamat SD, SMP bahkan SMA yang
tidak terserap pasar kerja di dalam negeri? Kewajiban pemerintah melatih, melatih
dan melatihnya hingga mereka trampil pada bidang kerja tertentu.
Page 74 of 104.

