Page 197 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 APRIL 2020
P. 197

"Proses peningkatan kualitas data dapat berjalan seiring dengan pelaksanaan
               distribusi bantuan. Kemelut ekonomi saat ini juga menjadi peluang pemerintah
               untuk memperbaiki data penduduk berdasarkan status ekonomi dan pekerjaan
               mereka secara lebih lengkap sehingga program-program sosial pemerintah dapat
               lebih tepat sasaran," sambungnya.

               Selain itu, penting juga untuk mengintegrasikan data pengangguran dan penerima
               bantuan sosial yang selama ini dimiliki dari berbagai lembaga pemerintah dan non-
               pemerintah.

               Mulai dari Kementerian Sosial, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, Dinas
               Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, lembaga administrasi pemerintah hingga tingkat
               desa/kelurahan, hingga lembaga masyarakat khususnya RT dan RW termasuk
               asosiasi-asosiasi tenaga kerja.

               "Pemerintah, misalnya, dapat memanfaatkan data Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang
               dimiliki BPJS Kesehatan sebanyak 96,8 juta penerima yang sebagian datanya telah
               memiliki nama dan alamat. Meskipun demikian, pemerintah harus membuka
               peluang upgrading data berdasarkan informasi dari lembaga pemerintah dan
               masyarakat di tingkat bawah," imbuhnya.


               Selanjutnya, menyesuaikan skema bantuan Kartu Pra-Kerja dengan memprioritaskan
               pengangguran yang tidak mampu, khususnya yang terkena dampak COVID-19,
               dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Paket pelatihan senilai
               satu juta rupiah yang mengalir kepada penyelenggara pelatihan yang satu paket
               dengan insentif pelatihan dan biaya survei masing-masing Rp 600 ribu dan Rp 150
               ribu, perlu ditinjau ulang pada masa pandemi ini.

               Alasannya, peningkatan jumlah pengangguran saat ini terjadi akibat turunnya
               permintaan tenaga kerja karena perlambatan ekonomi (demand shock), dan bukan
               akibat persoalan kualitas supply tenaga kerja sehingga membutuhkan peningkatan
               skill.


               "Program Kartu Pra-Kerja juga dapat menjadi basis untuk membenahi data
               pengangguran sehingga dapat dijadikan sebagai basis data pengangguran yang real
               time, yang dapat menjadi basis kebijakan-kebijakan di bidang ketenagakerjaan,
               seperti memberikan sejenis unemployment benefit baik berbentuk bantuan untuk
               mendapatkan pekerjaan. Apalagi sasaran Kartu Pra-Kerja sebanyak 5,6 juta orang,
               setara dengan 80% angka pengangguran yang mencapai 7 juta orang," tambahnya.

               Kemudian, mendorong kepada dunia usaha melalui pemberian insentif agar mereka
               mengoptimalkan alternatif-alternatif untuk mempertahankan tenaga kerja mereka
               dibandingkan dengan PHK. Beberapa alternatif tersebut di antaranya pengurangan
               jam kerja dan hari kerja, pengurangan shift dan lembur, hingga pemotongan gaji,
               dan penundaan pembayaran tunjangan dan insentif.


               Kepada dunia usaha yang bersedia melakukan hal tersebut, pemerintah perlu
               memberikan insentif yang lebih besar,seperti penurunan tarif listrik untuk bisnis dan




                                                      Page 196 of 219.
   192   193   194   195   196   197   198   199   200   201   202