Page 4 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 MEI 2020
P. 4

APIL kemudian berkoordinasi dengan DNT Lawyers dan Environmental Justice
               Foundation (organisasi nirlaba yang berbasis di London, Inggris) untuk mendalami
               fakta-fakta yang mereka temukan, sekaligus mendorong pemerintah Indonesia agar
               segera melakukan upaya Hukum terkait kasus pelanggaran HAM tersebut. Karena
               operasi dan awak kapal bukan berasal dari Korea Selatan, APIL mengirimkan semua
               bukti dokumen dan video kepada DNT Lawyers untuk ditindak di Indonesia.

               Jasad Awal Kapal yang Meninggal Selama Pelayaran Aakan Dibuang ke Laut Long
               Xing 629 telah beroperasi sejak 15 Februari 2019, dan selama lebih dari 13 bulan
               beroperasi di Perairan Samoa (tepatnya di wilayah RFMO Western & Central Pacific
               Fisheries Commission). Kapal terus berada di tengah laut tanpa pernah bersandar di
               daratan atau pulau.

               Pada Desember 2019, dua orang ABK bernama Sepri, Alfatah meninggal disebabkan
               oleh penyakit misterius yang memiliki ciri-ciri sama, yakni badan membengkak, sakit
               pada bagian dada, dan sesak nafas.

               Sepri dan Alfatah mengalami sakit selama 45 hari sebelum meninggal. Selanjutnya
               pada Maret 2020, Ari mengalami sakit yang sama selama 17 hari sebelum akhirnya
               meninggal pada 30 Maret 2020.

               Selama sakit, kapten kapal hanya memberikan obat-obat yang tidak dapat dipahami
               ABK Indonesia karena tertulis dalam bahasa China, juga diduga telah kadaluarsa.

               Kapten juga menolak permintaan para ABK Indonesia untuk membawa temannya
               yang sakit ke rumah sakit di Samoa. Pada masa kritis itu, Alfatih dipindahkan ke
               Kapal Long Xing 802, dan Sepri ke Long Xing 629. Mereka meninggal di kedua kapal
               tersebut.

               Para ABK Indonesia telah meminta agar jenazah rekan mereka disimpan di tempat
               pendingin agar dapat dibawa pulang ke Indonesia. Namun kapten kapal menolak
               dan justru melarung jenazah tersebut ke tengah laut.

               Kemudian, setelah kapal berlabuh di Busan untuk menjalani karantina 14 hari di
               Hotel Ramada, ABK Effendi Pasaribu mengalami sakit misterius yang sama dengan
               rekan-rekan terdahulu.

               Sayangnya Effendi tidak langsung dibawa ke rumah sakit padahal gejala badan
               bengkak dan sesak nafas sudah dirasakan Effendi Pasaribu sejak Februari 2020,
               atau 2 bulan sebelum berlabuh di Busan.

               Baru pada 26 April malam Effendi dibawa ke UGD Busan Medical Centre karena
               kondisinya yang semakin kritis. Namun akhirnya Effendi meninggal pada 27 April
               2020 pagi waktu Busan.

               Selain peristiwa meninggalnya empat ABK dengan penyakit misterius, ABK Indonesia
               di Kapal Long Xing 629 juga mengalami eksploitasi dan menjadi korban



                                                       Page 3 of 313.
   1   2   3   4   5   6   7   8   9