Page 75 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 OKTOBER 2019
P. 75
menjadi korban. Melalui Kamar Dagang Ekonomi dan Indonesia (KDEI), pemerintah
akan memastikan ketiganya mendapat hak gaji hingga asuransi kematian.
"Setelah proses pemulangan selesai, KDEI Taipei akan mengurus segala
sesuatunya," ujarnya.
Direktur Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri (PPTKLN)
Kemenaker Eva Trisiana menambahkan, selain tiga korban meninggal, ada empat
WNI lainnya yang dikabarkan terluka akibat kejadian ini. Dua korban, Miswan dan
Supandi, mengalami luka ringan. Sementara dua lainnya, Jaedi dan Winanto, harus
menderita luka berat sehingga perlu menjalani perawatan intensif di rumah sakit di
Yilan.
"Namun saat ini hanya Winanto yang masih perlu perawatan di rumah sakit St.
Mary's," tuturnya.
Eva mengungkapkan, seluruh korban merupakan pekerja resmi di kapal ikan milik
Taiwan. Mereka bekerja sebagai anak buah kapal (ABK).
Terkait hak-hak para almarhum, Eva menegaskan, bahwa Otoritas Wilayah Yilan dan
perusahaan pengelola pelabuhan Taiwan, Taiwan International Ports Corporation
Ltd sudah berjanjin akan memberikan santunan kepada korban, baik korban
meninggal maupun luka-luka. Untuk korban luka, santunan diberikan sesuai dengan
tingkat keparahannya.
"Pemerintah akan terus memantau dan memastikan agar hak-hak para almarhum
dapat diterima oleh ahli warisnya sesuai dengan ketentuan," paparnya.
Dari informasi yang dihimpun, besaran santunan untuk keluarga korban meninggal
mencapai USD 160 ribu atau sekitar Rp 2,27 miliar. Sementara, empat WNI korban
luka-luka mendapat santunan bervariasi mulai dari USD 322 sampai USD 1.159 atau
Rp 4,5 juta hingga Rp 16,4 juta.
Seperti diketahui, runtuhnya jembatan lintas pelabuhan Nanfang Ao, di Yilan,
Taiwan ambruk pada Selasa (1/10). Akibatnya, sejumlah kapal nelayan yang berada
di bawah jembatan tertimpa reruntuhan. Tujuh orang WNI turut menjadi korban
dari peristiwa nahas tersebut.
Page 74 of 106.

