Page 126 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 FEBRUARI 2020
P. 126

"Selain itu upaya reformasi birokrasi, penyederhanaan perizinan, dan perubahan
               regulasi juga diperlukan untuk dapat menciptakan ekosistem berusaha dan bekerja
               yang lebih baik," katanya.


               Menaker Ida mengungkapkan World Bank menyoroti peraturan ketenagakerjaan
               Indonesia terkait dengan kemudahan berbisnis. Dibandingkan dengan negara
               berpenghasilan menengah ke bawah di Asia Timur dan Pasifik, Indonesia dinilai
               memiliki peraturan ketenagakerjaan yang kaku, terutama terhadap perekrutan
               tenaga kerja. Rilis terbaru Japan External Trade Organization (JETRO) terkait kondisi
               bisnis perusahaan Jepang di Asia dan Oceania, menyebut sebanyak 55,8 persen
               perusahaan yang disurvei, menyatakan ketidakpuasannya terhadap produktivitas
               tenaga kerja Indonesia bila dibandingkan dengan upah minimum yang dibayarkan.


               "Tingkat ketidakpuasan tersebut jauh lebih tinggi dari rerata negara-negara di Asia
               Tenggara yang hanya 30,6 persen. Bahkan tingkat ketidakpuasan Kamboja masih di
               atas Indonesia dengan 54,6 persen," ujar Menaker Ida.


               Namun di sisi lain, Menaker Ida juga menambahkan dalam praktiknya tingkat
               kepatuhan perusahaan untuk memenuhi pembayaran kompensasi PHK sesuai
               peraturan sangat rendah.


               Data Kemnaker pada tahun 2019, mengungkapkan dari sekitar 536 persetujuan
               bersama (PB) pemutusan hubungan kerja, yang memenuhi pembayaran kompensasi
               sesuai ketentuan UU Nomor 13/Tahun 2003 hanya sekitar 147 persetujuan bersama
               atau sekitar 27 persen. Sisanya sebanyak 384 persetujuan bersama atau sekitar 73
               persen tidak melakukan pembayaran kompensasi PHK sesuai dengan UU Nomor
               13/Tahun 2003.

               Data ini sejalan dengan laporan World Bank yang mengutip data Sakernas BPS
               2018. Berdasarkan laporan pekerja sebanyak 66 persen, pekerja sama sekali tidak
               mendapat pesangon; 27 persen pekerja menerima pesangon dari yang seharusnya
               diterima sesuai UU Nomor 13/Tahun 2003 dan hanya 7 persen pekerja menerima
               pesangon sesuai dengan ketentuan UU Nomor 13/Tahun 2013.

               "Berdasarkan persoalan-persoalan tersebut, maka diperlukan penataan ulang
               ketentuan ketenagakerjaan melalui Omnibus Law Cipta Kerja yang berfokus pada
               upaya penciptaan lapangan kerja yang seluas-luasnya dengan tetap menjaga
               perlindungan bagi pekerja/buruh," kata Menaker Ida.

               Kemnaker lanjut Ida, merupakan institusi Pemerintah yang memiliki tanggung jawab
               terkait perlindungan dan kesejahteraan mulai dari tenaga kerja yang belum bekerja,
               pekerja/buruh yang bekerja bahkan yang mengalami pemutusan hubungan kerja.
               Karenanya, Kemnaker juga harus dapat menjaga keseimbangan antara kepentingan
               pekerja/buruh dan kepentingan pengusaha, karena keduanya tidak bisa berjalan
               sendiri-sendiri.


               "Suasana hubungan industrial yang harmonis dan dinamis harus tetap dijaga agar
               kelangsungan bekerja dan kelangsungan usaha tetap dapat berjalan," katanya.




                                                      Page 125 of 223.
   121   122   123   124   125   126   127   128   129   130   131