Page 56 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 MEI 2020
P. 56
Selain bertugas di puskesmas, Satya juga dan 20 perawat lainnya, bergantian
menjaga posko COVID-19 untuk bersiap menangani pasien yang tertular virus
corona.
Sebagai seorang perawat THL di Jawa Tengah, gaji Satya per bulan adalah Rp1,3
juta, atau Rp47.500 per hari.
Jumlah ini masih di bawah standar Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun ini, yaitu
Rp1,7 juta.
"Bisa dihitung sendiri berapa besaran gaji kami dengan tanggung jawab seperti itu.
Taruhan kami terus terang kan nyawa, tapi upah kami ala kadarnya," kata Satya
kepada Natasya Salim dari ABC News di Melbourne.
KP Kunci menangani COVID-19
Butuh 'keterbukaan dan ketegasan' pemerintah
Tapi Satya mengaku tidak punya pilihan lain selain harus menjalani tugasnya meski
dengan gaji rendah.
Ia juga harus mengusahakan sendiri alat pelindung diri (APD) yang harus
dikenakannya, karena tiap tenaga kesehatan di puskesmas tempatnya bekerja
hanya dijatah satu APD per minggu.
"Jadi pertama kali, kami menggunakan jas hujan yang harganya Rp15 ribu atau
Rp20 ribu, yang plastik tipis," kata Satya.
Sementara masker dijatah empat buah per minggu, itu pun menurutnya tidak
memenuhi standar kesehatan.
"Tidak ada kacamata. Mau pakai uangnya siapa? Gaji Rp1,3 juta saja masih beli
[perlengkapan] sendiri," tambahnya.
Kondisi APD yang tidak maksimal membuatnya khawatir untuk berinteraksi dengan
anggota keluarganya selepas kerja karena takut menulari mereka.
"Indonesia Terserah"
Gaji karyawan rumah sakit dipotong
Sebagai THL, besaran gaji yang diterima Satya tidak sebanding dengan jam
kerjanya yang melebihi batas jam kerja PNS, yaitu 7,5 jam per hari atau 150 jam
per bulan, merujuk pada PP Nomor 53 Tahun 2010 dan Keputusan Presiden Nomor
68 Tahun 1995 tentang Hari Kerja di Lingkungan Lembaga Pemerintah.
"Kalau saya, di puskesmas, [waktu] piket saya sekitar 17 sampai 20 jam. Kalau
dihitung jam kerjanya, ya lebih [dari batas jam kerja PNS], sekitar 180 jam,"
katanya yang juga mengatakan di luar piket tetap bekerja.
Page 55 of 101.

