Page 84 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 09 SEPTEMBER 2019
P. 84

2030. Bonus demografi ini adalah berkah dan modal pembangunan yang penting,
               namun di sisi lain akan menjadi bencana jika Indonesia gagal memperkuat SDM dan
               juga gagal menyediakan lapangan pekerjaan.


                Selain itu saat kita menghadapi tantangan persaingan ekonomi antar negara yg
               semakin sengit. Dalam persaingan itu kuncinya adalah kekuatan SDM.

                "Itu sebabnya reformasi sektor ketenagakerjaan dari hulu sampai hilir merupakan
               keharusan. Apalagi 51% tenaga kerja kita adalah lulusan SD", ujar Ari  "Di hulu, kita
               menghadapi persoalan struktural di mana belum adanya "link and match" atau
               belum tersambungnya antara output sistem pendidikan dengan kebutuhan dunia
               usaha dan dunia industri," ujarnya.

                Tanpa pembenahan yg serius dalam pendidikan maka menyisakan masalah pada
               kualitas tenaga kerja kita. KAGAMA mengapresiasi capaian pemerintah Jokowi-JK yg
               dalam lima tahun terakhir, mampu menurunkan angka pengangguran terbuka dari
               5,81% pada bulan Februari 2015 ke 5,01% Februari 2019.

                Walaupun demikian tantangan ke depan tidak ringan, karena kita memasuki era
               disrupsi teknologi yg membuat beberapa pekerjaan lama akan bisa hilang dan
               emerging job akan bermunculan. Karema itu dibutuhkan lompatan untuk menguasai
               emerging skill seperti artificial intelligent atau kecerdasan buatan, cloud computing
               atau komputasi awan, big data analytics atau analisis data berskala besar, dan
               internet of things.

                Seperti disampaikan pak Jokowi, dunia tidak semata sedang berubah tetapi sedang
               terdisrupsi. Di era disrupsi ini kemapanan bisa runtuh ketidakmungkinan bisa terjadi.
               Jenis pekerjaan bisa  berubah setiap saat, banyak jenis pekerjaan lama yang hilang.
               Tetapi juga makin banyak jenis pekerjaan  baru yang bermunculan. Ada profesi
               yang hilang, tetapi juga ada profesi baru yang bermunculan.

                "Kita harus menyiapkan diri menghadapi era disrupsi, dengan memperkuat
               emerging skill tenaga kerja kita yang dibutuhkan untuk mengisi emerging job
               sebagai dampak revolusi industri 4.0," ungkap Ari.

                Selain itu, kita juga punya tantangan untuk memperkuat kualitas pekerja migran ke
               luar negeri sehingga bukan hanya menyumbangkan remiten tapi juga mengisi
               tenaga kerja dengan skill yg tinggi di pasar tenaga kerja global. Walaupun, pada
               saat yg bersama kita juga menghadapi kenyataan masuknya tenaga kerja asing dari
               negara lain. Pada akhir 2018, data Kementerian Ketenagakerjaan terkait Tenaga
               Kerja Asing (TKA) mencapai 95.335 pekerja, atau 0,04 persen dari total penduduk
               268,829 juta jiwa. Ini angka yang amat rendah, namun kata Ari mesti sering
               menimbulkan kegaduhan karena digunakan sebagai komoditi politik. Padahal jumlah
               tenaga kerja migran kita ke luar negeri jauh lebih banyak dibandingkan TKA ke
               Indonesia.









                                                       Page 83 of 146.
   79   80   81   82   83   84   85   86   87   88   89