Page 163 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JULI 2020
P. 163

Ekonom  Bank  Permata  Josua  Pardede  mengatakan,    perekonomian    Indonesia    sudah
              menunjukkan  pelemahan.  Ini  tercermin  dari  pertumbuhan  ekonomi  kuartal  I-2020  sebesar
              2,97%, melambah dari periode sama di tahun lalu yang tercatat 5,05%.

              "Ini mengindikasikan bahwa produktivitas perekonomian baik dari sisi permintaan dan produksi
              mengalami penurunan," ungkapnya kepada Kompas.com, Senin (20/7/2020).

              Penurunan aktivitas ekonomi nasional berdampak langsung pada pemutusan hubungan kerja
              (PHK) yang dilakukan oleh sebagian besar sektor usaha. Termasuk pada sektor ekonomi non-
              formal akibat kebijakan PSBB di berbagai daerah di Indonesia.

              PHK di sektor formal yang dilakukan oleh perusahaan, bersamaan dengan pekerja non-formal
              yang  menurun  tajam  produktivitasnya,  pada  akhirnya  mendorong  penurunan  pendapatan
              masyarakat yang kemudian berdampak pada penurunan pengeluaran konsumsi rumah tangga.

              "Sebagian besar pekerja non-formal juga terdampak dengan penurunan pengeluaran konsumsi,
              dan  bahkan  turun  kelas  dari  sebelumnya  masyarakat  berpenghasilan  menengah  menjadi
              penduduk rentan miskin, bahkan turun kelas menjadi masyarakat pra sejahtera," jelasnya.

              Oleh  sebab  itu,  perlambatan  ekonomi  domestik  yang  cukup  signifikan,  membuat  Indonesia
              berpotensi mengalami resesi yakni ketika pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-
              turut negatif.

              Pemerintah  sendiri  memperkirakan  pertumbuhan  ekonomi  kuartal  II-2020  akan  kontraksi
              dikisaran minus 3,5% hingga minus 5,1%, dengan titik tengah di minus 4,3%.

              Pada kuartal III-2020 diharapkan ekonomi Indonesia kian membaik, meski tetap berpotensi
              tumbuh negatif, yakni dikisaran minus 1 persen hingga positif 1,2%.

              "(Resesi)  diperkirakan  akan  berdampak  secara  riil  pada  masyarakat  dalam  hal  penurunan
              pengeluaran  konsumsi  masyarakat,  sehingga  mendorong  potensi  penambahan  penduduk
              rentan miskin dan miskin," ungkapnya.


              Senada,  rirektur  Riset  Ekonom  Center  of  Reform  on  Economics  (CORE)  Piter  Abdullah
              mengatakan, perekonomian dalam negeri tengah mengalami kontraksi dan ini sudah terlihat
              sejak kuartal II-2020 dan diperkirakan berlanjut ke kuartal III-2020.

              Imbasnya,  kini  banyak  terjadi  PHK  sehingga  meningkatkan  jumlah  pengangguran  dan
              kemiskinan. Piter bilang, konsekuensi ini tidak bisa dicegah selama wabah masih berlangsung.

              "Yang  bisa  dilakukan  adalah  mengurangi  dampak  sosialnya  dengan  menyalurkan  bantuan
              sosial," kata dia.

              Menurutnya, pemerintah hanya bisa menahan agar kontraksi ekonomi tidak semakin dalam, hal
              itu  dilakukan  dengan  memberikan  stimulus  bagi  dunia  usaha  dan  bansos  bagi  masyarakat
              melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

              "Juga melalui pelonggaran PSBB (agar ekonomi kembali bergerak)," kata dia.

              Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul  "Indonesia Terancam Resesi, PHK dan
              Kemiskinan Bakal Meningkat"  (*).







                                                           162
   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168