Page 148 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 02 JULI 2020
P. 148

persoalan  yang  dirasakan  oleh  para  buruh  dan  pekerja  yang  totalnya  hampir  1  juta  jiwa.
              Dirumahkan tanpa dibayar, di PHK tanpa pesangon, upah per hari sudah tidak manusiawi.

              THR-nya  dicicil,"  tegas  Ketua  Aliansi  Buruh  Jabar  (ABJ)  Ajat  Sudrajat  dalam  orasinya.  Dia
              menjelaskan,  para  buruh  juga  mendesak  Gubernur  Jawa  Barat  Ridwan  Kamil  untuk  segera
              mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Upah Minimum Sektoral Kabupaten/ Kota (UMSK) tahun
              2020. "Aksi di depan Gedung Sate hari ini kita suarakan, teman-teman masih menerima upah
              dan THR tahun 2019.
              Mau masuk bulan Juli masih upah 2019. Untuk itu mendesak kepada Gubernur untuk segera
              mengeluarkan SK UMSK untuk tahun 2020," tambahnya. Berdasarkan data yang dihimpun, upah
              buruh di beberapa kota atau kabupaten masih mengikuti aturan tahun 2019. Sementara itu di
              Depok, Bekasi, dan Cianjur sudah merekomendasikan UMSK. "Sampai saat masih belum selesai,
              alasan COVID-19.

              Mereka  tidak  berdaya  menyejahterakan  buruh  di  Jawa  Barat.  Kami  menyampaikan  kepada
              Gubernur supaya cepat mengeluarkan SK UMSK," katanya.

              Dalam  kesempatan  tersebut,  Wakil  Gubernur  (Wagub)  Jabar,  Uu  Ruzhanul  Ulum  menerima
              audiensi  serikat  buruh.  Dalam  audiensi  itu,  Kang  Uu  menjawab  aspirasi  yang  disampaikan
              berbagai  serikat  buruh  antara  lain  Aliansi  Buruh  Jabar,  Aliansi  Buruh  Bekasi  Melawan,
              Konfederasi KASBI, dan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia.
              Aspirasi buruh utamanya yakni menuntut Gubernur Jabar Ridwan Kamil segera meneken Surat
              Keputusan (SK) terkait Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK). Kang Uu menjelaskan,
              setelah rapat pleno Dewan Pengupahan Jabar pada 11 Juni lalu, landasan hukum terkait UMSK
              hingga  kini  terus  diproses.  Dirinya  pun  menampik  dugaan  buruh  soal  pengaruh  pergantian
              Kepala Dinas (Kadis) Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans). "Kami sedang menelaah
              dan me-review satu demi satu karena masih ada kelemahan.

              Ganti Kadis tidak mengganggu (proses), tidak ada alasan menunda. Justru ketika rotasi-mutasi,
              pesan kami kepada Kadis adalah meneruskan program sebelumnya dan mempercepat kinerja,"
              ucap Kang Uu. Selain itu, Kang Uu menjawab aspirasi untuk mempertegas perlindungan kepada
              buruh yang rentan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di masa pandemi COVID-19 serta
              dari ketidakadilan pesangon ketika PHK.

              "Jika ada aduan, sebut (nama) perusahaannya sehingga bisa kami panggil jika mereka memang
              melanggar  Undang-Undang.  Kalau belum  ada  kesepakatan  dan kesepahaman,  bisa  audiensi
              sendiri antara Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) dan serikat buruh," kata Kang Uu. Soal
              bantuan sosial (bansos) dan perlindungan kesehatan bagi buruh, Kang Uu menjelaskan bahwa
              setiap  warga  Jabar  yang  menjadi  miskin  baru  (misbar)  akibat  pandemi  COVID-19  berhak
              menerima bansos provinsi.
              Dirinya pun menegaskan, bansos provinsi merupakan pelengkap dalam Sembilan Pintu Bantuan
              sehingga tidak boleh ada warga yang dobel menerima bantuan. Sembilan pintu bantuan dari
              pemerintah itu adalah Kartu Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Sembako, Kartu Pra Kerja,
              bansos  presiden  di  Bodebek  (Bogor-Depok-Bekasi),  Dana  Desa,  bansos  tunai  Kementerian
              Sosial, bansos kabupaten/kota, bansos provinsi, serta Gerakan Nasi Bungkus (Gasibu). "Karena
              tidak ada pengkhususan judul kepada kelompok tertentu.

              Tidak ada judul khusus, kalau memang misbar,  dapat haknya. Jadi bansos sudah termasuk
              untuk buruh, asal jangan sampai data dobel," tutur Kang Uu. "Yang sudah dapat Kartu PKH,
              Kartu  Sembako,  dan  lainnya,  tidak  dapat  bansos  provinsi.  Jadi  bansos  provinsi  sebagai
              pelengkap.  Jika  memang  belum  terdaftar  oleh  RT/RW,  sampaikan  lewat  (aplikasi)  Pikobar,"


                                                           147
   143   144   145   146   147   148   149   150   151