Page 120 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 JANUARI 2020
P. 120

Ida membuka ruang dialog dengan berdiskusi perwakilan serikat buruh mengenai
               Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Dalam kesempatan ini presidium serikat
               pekerja (SP/SB) yang terdiri dari perwakilan beberapa konfederasi SP/SB.


               Ia menjelaskan salah satu isi pembahasan omnibus law adalah pekerja dengan
               hubungan kerja berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) atau pekerja
               kontrak, dipastikan mendapatkan hak dan pelindungan yang sama dengan pekerja
               tetap atau Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT).

                Hak tersebut antara lain, hak atas upah, jaminan sosial, perlindungan keselamatan
               dan kesehatan kerja, dan hak atas pengakhiran atau putusnya hubungan kerja.


                "Jadi tidak benar, habis kontrak nggak ada kompensasi bagi pekerja," kata Ida  Ida
               juga memastikan, pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tetap
               mendapatkan kompensasi PHK sesuai ketentuan.

                "Selain menerima kompensasi PHK, pekerja ter-PHK mendapat perlindungan
               jaminan sosial berupa Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP)," jelas Menaker.


                Selain itu, ia menyebut bahwa sistem Upah Minimum (UM) tetap ada dalam
               omnibus law. Di mana UM hanya berlaku untuk pekerja dengan masa kerja kurang
               dari satu tahun. Perusahaan juga diwajibkan menerapkan Struktur dan Skala Upah
               untuk pekerja dengan masa kerja di atas 1 tahun. Adapun, besaran upah di atas UM
               disepakati antara pekerja dan pengusaha.

                "UM tetap ada sebagai jaring pengaman dan tidak dapat ditangguhkan," terangnya
               Lebih lanjut, dikatakannya, omnibus law juga akan membuat waktu kerja menjadi
               lebih fleksibel, di mana pekerja dan pengusaha diberikan keleluasaan dalam
               menyepakati waktu kerja. Hal ini untuk memfasilitasi jenis pekerjaan tertentu yang
               sistem waktu kerjanya di bawah 8 jam per hari atau 40 jam per minggu.


                "Ini untuk jenis pekerjaan tertentu. Bagaimana dengan pekerjaan yang ingin 8 jam
               per hari atau 40 jam per minggu? Tetap ada, hanya kami memfasilitasi fleksibilitas
               jam kerja," paparnya.


                Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
               tenaga kerja terampil dan profesional pada bidang tertentu yang belum dapat diisi
               oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI), mempercepat proses pembangunan nasional
               dengan jalan alih teknologi dan keahlian dari TKA ke TKI, dan memperluas
               kesempatan kerja bagi TKI.

                 Penggunaan TKA tetap dibatasi hanya untuk jenis pekerjaan tertentu yang tidak
               dapat dilakukan oleh pekerja di dalam negeri. Pemerintah mengendalikan
               penggunaan TKA dengan memperhatikan jenis pekerjaan, jabatan, syarat
               kompetensi jabatan dalam hubungan kerja dan waktu tertentu dengan
               mempertimbangkan kondisi pasar kerja dalam negeri.








                                                      Page 119 of 175.
   115   116   117   118   119   120   121   122   123   124   125