Page 151 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 JUNI 2020
P. 151

Pembangunan  Nasional  (Bappenas)  memprediksi  pada  2021  angka  pengangguran  bisa
              menyentuh 12,7 juta orang.

              Pada  2020  Bapennas  memperkirakan  tingkat  pengangguran  terbuka  (TPT)  menyentuh  8,1
              hingga 9,2% melompat dari posisi 2019 yang berkisar 5,28%. Bappenas menargetkan pada
              2021 TPT akan ditahan di kisaran 7,7-9,1%. Sebagai perbandingan TPT 9,1% pernah dicapai
              pada 2007 dengan jumlah penganggur 10 juta orang.

              "Dikhawatirkan  pada  2021  pengangguran  akan  mencapai  10,7-12,7  juta  orang.  Jadi  kami
              berharap bisa dikembalikan setidaknya mendekati sebelum pandemi," ucap Kepala Bappenas
              Suharso  Monoarfa dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (22/6/2020).

              Jika prediksi itu benar, dalam waktu 1 tahun yang relatif singkat, maka peningkatannya akan
              mementahkan penurunan pengangguran 3 periode pemerintahan sekaligus melampaui rekor
              tertinggi 15 tahun terakhir. Tepatnya puncak angka pengangguran pada 2005 dengan jumlah
              11,89 juta orang setara TPT 11,24%.

              Sejak 2005, angka pengangguran beberapa kali berhasil diturunkan. Misalnya di akhir periode
              pertama pemerintahan SBY tahun 2009 angkanya 8,96 juta orang atau TPT 7,87% dan akhir
              periode-II  di  tahun  2014  menjadi  7,24  juta  orang  atau  TPT  5,94%.  Di  akhir  periode  ke-1
              Presiden Joko Widodo pada 2019 lalu, angka pengangguran turun menjadi 7,05 juta orang atau
              TPT 5,28%.
              Gentingnya prediksi ini pernah disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Senin (18/5/2020).
              Jika pertumbuhan ekonomi minus 0,4%, maka ada tambahan  penganggur 5,23 juta orang
              selama 2020 sehingga di awal 2021, angkanya menjadi 12 juta.

              Penambahan bisa ditekan separuh menjadi 2,92 juta orang sehingga menjadi 10 juta di awal
              2021 jika pertumbuhan ekonomi 2020 bisa mencapai 2,3%.

              Hanya  saja  situasi  ini  tentu  sulit.  Kamis  (18/6/2020)    Sri  Mulyani    memangkas  batas  atas
              pertumbuhan Indonesia menjadi 1% sehingga jumlah tambahan penganggur yang bisa ditekan
              praktis semakin berkurang.

              Ancaman Resesi Semakin Nyata Akibat COVID-19, Indonesia Bisa Apa?  Sejalan dengan prediksi
              itu, gelombang PHK sudah terjadi. Hingga April 2020,  Kemnaker  mencatat sekitar 1,5 juta
              pekerja terdampak COVID-19. Sekitar 10% di-PHK dan 90% dirumahkan.

              Namun, Kamar Dagang Industri (  Kadin  ) mencatat lebih besar. Hingga Mei 2020, 6 juta pekerja
              sudah di-PHK dan dirumahkan karena pengusaha tak memiliki cashflow. Rincian pekerjanya 2,1
              juta tekstil, 1,4 juta transportasi darat, 400 ribu sektor mall, dan sisanya gabungan beberapa
              sektor.

              Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Heri Firdaus mengatakan
              lonjakan pengangguran memang tak bisa terelakkan lantaran pembatasan sosial berskala besar
              (PSBB)  demi  menekan  penyebaran  menimbulkan  gejolak  permintaan-penawaran.  Hasilnya
              pendapatan usaha turun dan PHK menjadi opsi.

              Di sisi lain, angkatan kerja baru berpotensi tak terserap dan menurut Kemnaker ada tambahan
              2 juta orang/tahun. Analisis big data Badan Pusat Statistik (BPS) justru menunjukkan jumlah
              lowongan kerja terus menyusut hingga 62% per Mei 2020 dibanding Februari 2020 sebagai
              indikasi anjloknya permintaan tenaga kerja.

              "Secara makro memang akan ada lonjakan pengangguran besar," ucap Heri saat dihubungi
              reporter  Tirto  , Selasa (23/6/2020).


                                                           150
   146   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156