Page 47 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 JUNI 2020
P. 47

Teranyar  adalah  Gojek  mengonfirmasi  PHK  sebanyak  430  karyawan  akibat  wabah  korona.
              Jumlah itu setara 9% dari total karyawan Gojek.

              Kabar pahit ini melengkapi rentetan kejadian sebelumnya, ketika Grab memberhentikan 360
              pekerja atau 5% dari total pegawai, termasuk di Indonesia. Ada pula Bukalapak yang melakukan
              PHK 100 karyawannya, setara 4% dari total karyawan.

              Dari mancanegara, jaringan hotel bujet OYO, yang didukung Soft Bank, harus melakukan PHK
              5.000  karyawannya  akibat  kinerja  tertekan  korona.  Uber  pun  mengumumkan  PHK  terhadap
              3.000 pekerja.

              Co-CEO Gojek Andre Soe-listyo menyebutkan alasan PHK 430 karyawan akibat layanan GoLife,
              yakni GoMas-sage dan GoClean merosot Uyam. "Kedua bisnis ini butuh interaksi jarak dekat,
              sehingga mengalami penurunan saat pandemi," sebut dia, dalam pernyataan resminya.

              Ketua Asosiasi Modal Ven-tura untuk Start-up Indonesia (Amvesindo) Jefri R Sirait mengingatkan
              start-up tidak lengah dan tetap menerapkan manajemen krisis. Pelaku usaha harus menentukan
              strategi saat ini dan masa depan. Sebab, potensi PHK belum bisa hilang.

              Selain itu, dia memproyeksikan, start-up di sektor pendidikan, kesehatan, teknologi finansial
              (frntech) dan logistik menjadi ineara investor saat new normal, CEO Mandiri Capital Indonesia
              Eddi  Danusaputro  menilai,  fenomena  PIIK  pada  perusahaan  berbasis  teknologi  saat  ini
              merupakan hal wajar demi efisiensi pembiayaan di masa pandemi. "Karena pandemi, startup
              harus  con-serve  cash  karena  sulit  melakukan/?/?^  rising.  Tidak  hanya  startup,  perusahaan
              besar pun juga demikian," kata dia, Rabu (24/6).

              Start-up berbasis teknologi paling keteteran karena mayoritas perusahaan belum projitablc. Di
              sisi lain, venture Capital kini sangat selektif mengucurkan pendanaan.

              Pengamat  Bisnis  dan  Manajemen  dari  Universitas  Bina  Nusantara,  Daniel  Saputra  menilai,
              perusahaan  berbasis  digital  perlu  melihat  kembali  laporan  keuangannya  dan  memotong
              pengeluaran yang tidak perlu. "Juga perlu memikirkan pencarian pendapatan atau alternatif lain
              melalui pivot strategi)," kata dia.

              Guru  Besar  Fakultas  Ekonomi  dan  Bisnis  Universitas  Indonesia  (FEB  UI)  Rhenald  Kasali
              menyebutkan,  pengurangan  karyawan  adalah  opsi  terakhir,  termasuk  di  situasi  pandemi.
              "Kondisinya memang buruk sehingga perlu perampingan," iyar dia.






























                                                           46
   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52