Page 167 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 JUNI 2020
P. 167

"Lakukan saja penyelidikan jika memang terindikasi hasil penyelidikan maka silahkan naik segera
              ke penyidikan, bukan kemudian membuat polemik yang akibatnya membuat Ketua Umum Partai
              Golkar seperti lagi mau digiring ke sanksi sosial atau peradilan rakyat, istilah saya," ujar Syamsul
              Rizal, Senin (22/6).

              Syamsul  juga  menegaskan,  kinerja  KPK  itu  bukan  diukur  dari  jumlah  berita.  Tetapi  berapa
              jumlah  kasus  besar  yang  sudah  KPK  lakukan  penyelidikan  dan  penyidikan  sampai  pada
              peradilan.
              Jika  sebuah  kasus  masih  bersifat  perception  of  innocent,  KPK  sebaiknya  tidak  terburu-buru
              membuat polemik melalu informasi publik.

              "Selain  masalah  kartu  prakerja  saya  mau  tanya  kepada  KPK,  sudah  sejauh  mana  KPK
              menyelesaikan  masalah  besar  seperti  kasus  Emiten  Krakatau  Steel,  Kasus  Mandiri,  Kasus
              Garuda,  BLBI,  dan  lain-lain.  Masih  banyak  kasus  besar  yang  merugikan  negara  ini,"  ujar
              Syamsul.

              Menurut Syamsul, salah satu tugas KPK selain memberantas korupsi juga membantu kondisi
              Indonesia yang sedang terpuruk secara moneter.

              "KPK segera usut semua kasus-kasus besar yang terkait dengan APBN, selain proses hukum,
              KPK juga tarik semua hasil hasil Jarahan para koruptor itu untuk dikembalikan kepada Negara
              agar dapat bermanfaat bagi rakyat saat ini," tegasnya.

              Sebelumnya, KPK melakukan kajian atas Program Kartu Prakerja dan menemukan sejumlah
              permasalahan pada empat aspek.

              Pertama, proses pendaftaran, di mana terdapat 1,7 juta pekerja terdampak (whitelist) sesuai
              data Kementerian Ketenagakerjaan dan BPJS Ketenagakerjaan.

              Kedua, KPK menemukan kerja sama dengan delapan platform digital tidak melalui mekanisme
              pengadaan barang dan jasa pemerintah.


              Ketiga, KPK menilai kurasi materi pelatihan tidak dilakukan dengan kompetensi yang memadai.
              Keempat,  terkait  pelaksanaan  program,  di  mana  KPK  menilai  metode  pelaksanaan  program
              pelatihan secara daring berpotensi fiktif, tidak efektif, dan dapat merugikan keuangan negara.

              (mg7/jpnn)  Simak! Video Pilihan Redaksi:.


























                                                           166
   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172