Page 116 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JUNI 2020
P. 116

Ringkasan

              Kapal ikan berbendera China. Lu Qing Yuan Yu 901. tengah dalam perjalanan pulang dari Laut
              Arab, Selasa, 2 Juni lalu. Di dalam kapal, dua warga negara Indonesia bergantian mengintip alat
              navigasi di ruang kemudi. Mereka ingin memastikan apakah posisi kapal sudah memasuki Selat
              Malaka.



              DICULIK LU QING YUAN YU, DISELAMATKAN TENGKU MELAYU

              Kapal ikan berbendera China. Lu Qing Yuan Yu 901. tengah dalam perjalanan pulang dari Laut
              Arab, Selasa, 2 Juni lalu. Di dalam kapal, dua warga negara Indonesia bergantian mengintip alat
              navigasi di ruang kemudi. Mereka ingin memastikan apakah posisi kapal sudah memasuki Selat
              Malaka.

              Diculik Lu Qing Yuan Yu, Diselamatkan Tengku Melayu

              PANDU WIYOGA

              Reynalfi Sianturi (22) dan Andri Juniansyah (30) berencana melarikan diri dari Lu Qing Yuan Yu.
              Namun, hal itu tak akan mudah karena selama tujuh bulan berlayar, kapal itu tak pernah sekali
              pun merapat ke pelabuhan. Satu-satunya cara untuk kabur adalah terjun ke laut.

              Mereka mengajak 10 WNI lain di kapal itu ikut melarikan diri. Namun, semua menolak karena
              risikonya terlalu besar. Cuaca sedang tak menentu, hujan lebat dan ombak tinggi bisa datang
              kapan saja Lagi pula Lu Qing Yuan Yu 901 berlayar dengan diapit dua kapal lain. Setelah lompat
              ke laut, besar kemungkinan mereka akan ditabrak kapal di belakang dan hancur digilas baling-
              baling.
              Meskipun ditentang kawan-kawannya, niat Reynalfi dan Andri sudah telanjur bulat. Tiga hari
              kemudian, Jumat (5/6/2020), mereka mengendap-endap lagi ke ruang kemudi untuk mengintip
              alat navigasi. Pulau Singapura kini terlihat sangat jelas. Kapal itu jelas sudah berada di perairan
              perbatasan Indonesia.
              "Pulau  Singapura  kelihatan  jelas  di  komputer  besar,  jadi,  kan,  jelas  sampingnya  (wilayah)
              Indonesia. Kami mau lompat di pulau kecil yang ada mercusuarnya," kata Andri saat ditemui di
              Kantor  Badan  Perlindungan  Pekerja  Migran  Indonesia  (BP2MI)  di  Pulau  Karimun  Besar,
              Kepulauan Riau, Senin (8/6/2020).

              Tanpa buang waktu lagi, Reynalfi dan Andri segera mencuri ban dan jaket pelampung. Mereka
              juga membungkus nasi sisa makan malam dan beberapa lembar baju dengan plastik hitam.
              WNI yang lain membantu mengawasi pergerakan para mandor kapal.
              Sekitar pukul 20.00, empat WNI mengantar Reynalfi dan Andri ke buritan kiri. Tak ada kata
              perpisahan, tak ada lambaian tangan, hanya pandangan empat pasang mata yang mengantar
              kepergian mereka. Byurrr... dua tubuh manusia menghunjam ke laut.

              Beruntung, satu kapal China yang di belakang tidak menabrak dan menggilas mereka. Deru
              mesin kapal-kapal itu semakin jauh. Reynalfi dan Andri terombang-ambing sendirian di tengah
              laut. Mereka berpelukan menahan dinginnya gerimis dan ganasnya ombak pada malam itu.

              Sekitar tengah malam, sebuah kapal kecil melintas di dekat mereka. Reynalfi berteriak minta
              tolong, tetapi kapal itu malah mematikan lampu dan menjauh. Hal itu membuat mereka putus
              asa. Ombak semakin kuat dan mereka tak kunjung berhasil menepi ke pulau terdekat.




                                                           115
   111   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121