Page 117 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JUNI 2020
P. 117

Tak jauh dari lokasi itu, di atas kapal pompong, Tengku Azhar (35) sedang tidur menunggu
              tangkapan ikan di jaring yang telah ia pasang sejak sore. Sekitar pukul 03.00, Sabtu (6/6), tiba-
              tiba ia mendengar orang minta tolong. Terbangun

              Hal  serupa  dialami  oleh  Andri  yang  berasal  dari  Sumbawa,  Nusa  Tenggara  Barat.  Ia
              diberangkatkan oleh seorang agen dari PT Duta Putra Group yang bernama Syafrudin.

              Setelah membayar Rp 50 juta, ia dijanjikan akan bekerja untuk pabrik manufaktur di Korea
              Selatan.

              Kisah selanjutnya berjalan sama dengan yang dialami Reynalfi. Setelah sampai di Singapura
              pada Januari 2020, ia dipaksa bekerja di Lu Qing Yuan Yu 213. Empat bulan kemudian, Andri
              dan enam WNI lain dipindahkan ke Lu Qing Yuan Yu 901. Di kapal itulah ia bertemu Reynalfi
              dan lima WNI lain.

              Sejak dipaksa naik ke Lu Qing Yuan Yu, semua WNI itu tidak pernah lagi melihat daratan dan
              tidak pernah menerima upah kerja. Waktu di Singapura, ponsel mereka juga disita sehingga
              mereka tidak bisa menghubungi keluarga di kampung halaman.

              "Kapten bilang kami harus ikut aturan kerja. Kalau enggak masalah bisa panjang. Makanya mau
              enggak mau dengan berat hati kami kerjakan. Kami sering dika-ta-katain yang enggak layak
              untuk didengar, juga disepakin. pokoknya diperlakukan tidak pantas," ujar Reynalfi.

              Di Lu Qing Yuan Yu 901 ada 21 pelaut China, 12 WNI, dan 4 warga Myanmar. Warga Indonesia
              dan Myanmar diperlakukan buruk. Mereka harus makan secara bergerombol di satu nampan
              besar. Mereka juga tidak boleh minum air mineral yang tersedia, hanya boleh minum air payau
              hasil sulingan air laut.

              Puncak gunung es

              Dalam seminar daring yang diselenggarakan Destructive Fishing Watch (DFW), Rabu (10/6),
              Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia di Kementerian Luar Negeri Judha N u
              graha mengatakan, kasus yang mengusik rasa kemanusiaan itu merupakan puncak gunung es.
              Dalam catatan Kemlu, pada 2019 saja ada 1.095 kasus terkait dengan pelaut Indonesia di luar
              negeri.
              Misalnya, pada 23 November 2019, Taufik Ubaidilah, anak buah kapal FV Fu Yuan Yu 1218,
              meninggal karena kecelakaan keija dan jenazahnya dilarung ke laut. Sementara enam WNI yang
              lain melompat dari kapal. Empat orang diselamatkan kapal Filipina, sedangkan dua orang lain
              belum ditemukan.

              Selanjutnya,  pada  16  Januari  2020,  publik  dihebohkan  sebuah  video  yang  memperlihatkan
              jenazah Herdianto, anak buah kapal Lu Qing Yuan Yu 623, dilarung ke Laut Somalia. Terakhir,
              pada 26 April lalu, Efendi Pasaribu, anak buah kapal LongXin 629, meninggal tanpa sebab jelas
              di Korea Selatan.

              Ketua Dewan Pimpinan Daerah Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) Sulawesi Utara Anwar Abdul
              Dalewa mengatakan, hanya sedikit perusahaan perekrut yang dihukum dalam kasus dugaan
              tindak  pidana  perdagangan  orang  (TPPO)  yang  korbannya  adalah  awak  kapal  perikanan
              tangkap.

              "Kami ingin tahu mandeknya ini kenapa, (padahal) laporan kami sudah masuk," katanya.

              Di luar sana, masih ada ribuan atau bahkan puluhan ribu WNI yang bekerja dalam kondisi buruk
              sebagai awak kapal ikan milik asing. Kru kapal asing yang mempekerjakan mereka tentu patut
              dikutuk. Namun, yang sebenarnya lebih kejam adalah agen penyalur di Indonesia yang tega


                                                           116
   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122