Page 118 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JUNI 2020
P. 118
menjual bangsa sendiri untuk diperbudak orang asing. Sementara itu, di ruang tamu Kantor
BP2MI yang remang di Pulau Karimun Besar, Reynalfi dan Andri teringat 10 kawannya yang
masih berada di Lu Qing Yuan Yu 901.
"Bantu kami, kami ingin pulang," ucap Andri menirukan kata-kata perpisahan dari para WNI di
Lu Qing Yuan Yu 901 pada malam terakhir mereka bersama. Karena kaget, nyaris seperti kapal
yang pertama, ia langsung mematikan lampu kapal dan buru-buru mengangkat jaring untuk
kemudian menjauh pindah tempat.
"Saya tak tahu yang panggil itu entah hantu entah apa. Takut juga saya, kan, makanya buru-
buru angkat jaring. Tapi, pas lagi angkat delapan bola (pelampung jaring), saya lihat ada orang
pakai life jacket angkat tangan minta tolong," tutur Azhar dengan logat Melayu yang kental,
Minggu (7/6).
Bukan Tengku namanya jika ia pergi begitu saja. Nama Tengku melekat kepada Azhar bukan
tanpa alasan. Dari garis ayahnya mengalir darah keturunan bangsawan Siak dari Riau daratan.
Meskipun hidupnya sebagai nelayan kecil tak memancarkan kemewahan bangsawan,
keutamaan dalam hatinya untuk menolong sesama tak akan pernah luntur.
Penasaran, ia menghidupkan mesin dan mendekati asal suara. "Saya tak langsung kasih naik,
tanya dulu dari mana. Dia bilang dari Indonesia, baru terjun dari kapal cumi punya China. Ya
sudah terus saya naikkan dulu," ujarnya. Saat itu, kondisi Andri setengah tak sadar kehabisan
tenaga. Reynalfi mengikat pinggang Andri ke tubuhnya agar kawannya itu tak tenggelam.
"Kami sudah janji hidup sama-sama atau mati sama-sama. Lebih baik mati di laut daripada mati
tekanan batin di kapal itu," kata Reynalfi kepada Azhar.
Mendengar hal itu, Azhar menangis kasihan. Reynalfi dan Andri juga menangis berterima kasih
karena telah diselamatkan dari maut. Di atas kapal pompong itu, Azhar yang Melayu, Reynalfi
yang Batak, dan Andri yang berasal dari Sumbawa, merasa senasib sebagai nelayan Indonesia
yang sengsara.
Ditipu dan dipaksa kerja
Reynalfi berasal dari Pematang Siantar, Sumatera Utara. Pada 11 November 2019, ia datang ke
Jakarta untuk mengikuti pelatihan kerja. Kata seorang agen penyalur bernama Udin, ia akan
dipekerjakan di Korea Selatan dan mendapat upah hingga Rp 50 juta per bulan.
Keanehan mulai muncul sejak Reynalfi tiba di Jakarta, agen itu meminta uang Rp 45 juta untuk
mengurus izin kerja. Lalu, ia dibawa ke Cirebon, Jawa Barat, untuk mengikuti pelatihan dasar
keselamatan dan mendapatkan buku pelaut.
"Pelatihannya sekitar seminggu saja, saya cuma disuruh berenang. Saya berpikir kenapa, kok,
latihannya begitu, padahal seharusnya keija saya di darat," ujarnya.
Delapan hari kemudian, agen itu memberangkatkan Reynalfi ke Singapura melalui Bandara
Soekarno-Hatta. Setelah sampai di "Negeri Singa", lima WNI diangkut kapal kecil menuju Lu
Qing Yuan Yu 901.
"Katanya kapal itu menuju Korea Selatan, tetapi ternyata malah ke Laut Arab. Hari ke-12 kami
diberi pakaian kerja," ucapnya.
caption:
Dua warga negara Indonesia, Andri Juniansyah (kiri) dan Rey-nalfi Sianturi, saat berada di
Kantor Badan Perlindungan Pekerja Migran di Pulau Karimun Besar, Kepulauan Riau, Senin
(8/6/2020). Mereka adalah dua anak buah kapal Lu Qing Yuan Yu 901 yang melarikan diri
117

