Page 50 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JUNI 2020
P. 50

ONE TO MANY TAK SELESAIKAN PELAYANAN HULU BP JAMSOSTEK

              Masyarakat  Peduli  Badan  Penyelenggara  Jaminan  Sosial  (MP  BPJS)  menyatakan,  data  dan
              informasi  yang  disampaikan  BPJS  Ketenagakerjaan  membingungkan  publik.  Terkait  jumlah
              pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pelayanan klaim jaminan hari tua (JHT), salah satunya.

              "Besarnya kasus PHK sudah pasti berdampak pada peningkatan jumlah kasus klaim JHT BPJS
              Ketenagakerjaan.  Mengapa  jumlah  kasus  klaim  JHT  justru  tidak  berbanding  lurus  terhadap
              kasus  PHK,"  kata  Ketua  Koordinator  Nasional  (Kornas)  MP  BPJS,  Hery  Susanto,  melalui
              keterangan tertulis, Minggu (14/6).

              Dicontohkannya dengan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) yang menyebut 3 juta
              pekerja mengalami PHK karena pandemi coronavirus baru (Covid-19). Sedangkan Kementerian
              Keuangan (Kemenkeu) mencatat 5 juta pekerja, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) 6,4 juta
              pekerja.

              Kemudian, Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto, mengklaim, sebanyak 1,161
              juta peserta mengajukan klaim JHT hingga akhir Mei 2020. Namun, pada awal Juni disebut
              mencapai 921.000 kasus dan Direksi Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan, Krisna Syarief, sempat
              mengatakan ada 790.000 pengajuan klaim JHT.

              Menurut Hery, minimnya angka pengajuan klaim JHT ke BPS Ketenagakerjaan, sekarang disebut
              Badan  Penyelenggara  Jaminan  Sosial  Tenaga  Kerja  (BP  Jamsostek),  imbas  kebijakan
              pembatasan kuota pelayanan.

              Sayangnya,  sambung  dia,  BP  Jamsostek  justru  mengeluarkan  kebijakan  keliru  dalam
              menyelesaikan  persoalan  tersebut.  Merespons  rendahnya  angka  pengajuan  klaim  JHT,  BP
              Jamsostek membuat Layanan Tanpa Kontak Fisik (Lapak Asik), baik daring (  online  ) maupun
              luring (offline), dengan metode  one to many  .

              "Pembatasan  kuota  pelayanan  klaim  itu  subtansi  persoalannya  di  bagian  hulu,  bukan  pada
              penanganan kecepatan pelayanan via model  one to many  yang saat ini sedang diuji coba BPJS
              Ketenagakerjaan," tegas Heri.

              Dalam pelaksanaannya, petugas dan peserta tidak bertemu langsung karena Kantor Cabang BP
              Jamsostek  menyediakan  bilik-bilik  yang  dilengkapi  layar  monitor  yang  terhubung  dengan
              petugas secara telekonferensi untuk kebutuhan komunikasi dan verifikasi data. Setiap  customer
              service officer  (CSO) melayani 4-6 orang sekaligus dalam waktu bersamaan.

              Dirinya  menerangkan,  model    one  to  many    hanya  mempercepat  proses  pelayanan  dari
              pengajuan klaim JHT yang telah terdaftar, bukan mengakomodasi peserta yang kesulitan akibat
              tertolak mendaftar klaimnya imbas pembatasan kuota secara daring.

              "Pembatasan  kuota  pendaftaran  pelayanan  klaim  BPJS  Ketenagakerjaan  harus  dicabut  alias
              nonkuota. Biarkan sesuai faktanya," jelasnya.

              Baginya,  pelayanan  klaim  JHT  kolektif  oleh  perusahaan  yang  berkoordinasi  dengan  BP
              Jamsostek juga salah urus dan bentuk lepas tanggung jawab direksi terhadap pelayanan kepada
              peserta. "Ini tidak sesuai amanah UU SJSN (Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional)
              dan  UU  BPJS."    Perusahaan  selaku  pemberi  kerja,  terang  Heri,  hanya  berwenang  untuk
              memperbarui pekerjanya guna didaftarkan sebagai peserta dan membayar iuran BP Jamsostek.
              Sedangkan pelayanan klaim, tambahnya, "Itu kewenangan BPJS Ketenagakerjaan."  "Urusan
              pengajuan  klaim  hak  pekerja  sebagai  peserta  BPJS  Ketenagakerjaan,  bukan  otoritas
              perusahaan. Perusahaan cukup terbitkan surat parklaring/pengalaman kerja pekerja saja. Tidak
              lebih dari itu," tutup Heri..


                                                           49
   45   46   47   48   49   50   51   52   53   54   55