Page 85 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JUNI 2020
P. 85

"Besarnya kasus PHK sudah pasti berdampak pada peningkatan jumlah kasus klaim JHT BPJS
              Ketenagakerjaan," sambungnya.

              Hery juga menyoroti soal sistem pelayanan klaim JHT BPJS Ketenagakerjaan yang menurutnya
              masih menerapkan pembatasan kuota pelayanan klaim yang minim dan tidak sebanding dengan
              jumlah fakta pekerja korban PHK di lapangan.

              "Kuota  pelayanan  klaim  JHT  BPJS  Ketenagakerjaan  masih  membatasi  jumlah  peserta  yang
              sebenarnya. Jadi pembatasan kuota pelayanan klaim itu subtansi persoalannya di bagian hulu,
              bukan pada penanganan kecepatan pelayanan via model one to many yang saat ini sedang
              diujicoba BPJS Ketenagakerjaan," katanya.

              Perlu  diketahui,  BPJS  Ketenagakerjaan  telah  menyediakan  berbagai  kanal  klaim  yang  dapat
              digunakan oleh peserta melalui protokol Layanan Tanpa Kontak Fisik (LAPAK ASIK), yang terdiri
              dari kanal online, offline dan kolektif.

              LAPAK ASIK offline ini tidak mempertemukan petugas BPJS Ketenagakerjaan dan peserta secara
              langsung. Kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan menyediakan bilik- bilik yang dilengkapi layar
              monitor yang terhubung dengan petugas secara video conference untuk kebutuhan komunikasi
              dan verifikasi data.

              Melalui metode ini, setiap petugas Customer Service Officer (CSO) melayani 4-6 orang sekaligus
              dalam waktu bersamaan, sehingga metode pelayanan ini disebut "One to Many".

              Hery Susanto mengatakan model one to many tersebut mempunyai pengertian relasi antara
              satu karyawan BPJS Ketenagakerjaan dan beberapa peserta klaim BPJS Ketenagakerjaan. Satu
              karyawan BPJS Ketenagakerjaan melayani lebih dari satu peserta klaim BPJS secara offline.

              "Jadi model one to many pelayanan klaim BPJS ketenagakerjaan itu hanya mempercepat proses
              pelayanan dari pengajuan klaim JHT yang telah terdaftar, bukan mengakomodasi peserta yang
              masih kesulitan akibat tertolak mendaftar klaimnya sebab ada pembatasan kuota pelayanan
              klaim online di sektor hulu yang selalu penuh. Pembatasan kuota pendaftaran pelayanan klaim
              BPJS  Ketenagakerjaan  harus  dicabut  alias  non  kuota,  biarkan  sesuai  faktanya,"  kata  Hery
              Susanto.

              Hery Susanto menilai model pelayanan one to many BPJS Ketenagakerjaan masih bersifat pilot
              proyek dan tidak berlaku massif di semua cabang/wilayah, khususnya basis pekerja.

              Selain itu, pelayanan klaim JHT kolektif oleh pihak perusahaan yang berkoordinasi dengan BPJS
              Ketenagakerjaan  itu  sudah  salah  urus  dan  bentuk  lepas  tanggungjawab  direksi  BPJS
              Ketenagakerjaan terhadap pelayanan kepada peserta. Itu tidak sesuai amanah UU SJSN dan UU
              BPJS.

              Perusahaan  sebagai  pemberi  kerja  itu  hanya  berwenang  untuk  update  pekerjanya  guna
              didaftarkan sebagai peserta dan membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan.

              "Pelayanan  klaim  itu  kewenangan  BPJS  Ketenagakerjaan.  Urusan  pengajuan  klaim  itu  hak
              pekerja sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, bukan otoritas perusahaan. Perusahaan cukup
              terbitkan surat parklaring/pengalaman kerja pekerja saja tidak lebih dari itu," pungkasnya..










                                                           84
   80   81   82   83   84   85   86   87   88   89   90