Page 461 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 NOVEMBER 2021
P. 461

ANIES MINTA MENAKER TINJAU ULANG FORMULA PENETAPAN UMP

              JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan meminta Menteri Ketenagakerjaan
              (Menaker) Ida Fauziah untuk meninjau ulang formula penetapan upah minimum provinsi (UMP)
              2022. Permintaan Anies tertulang dalam surat yang dikirim ke Menaker.

              "Kami  mengusulkan  dan  mengharapkan  kepada  Ibu  Menteri  untuk  dapat  meninjau  kembali
              formula penetapan UMPsebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 2021
              tentang  Pengupahan,"  demikian  keterangan  Anies  melalui  surat  kepada  Menaker  yang
              salinannya diterima wartawan di Jakarta, Senin (29/11).

              Menurut dia, usulan peninjauan formula penetapan UMP itu agar dapat memenuhi asas keadilan
              dan  hubungan  industrial  yang  harmonis.  Sehingga  kesejahteraan  pekerja  atau  buruh  dapat
              terwujud. Permintaan Anies itu dituangkan dalam surat kepada Menaker pada 22 November
              2021 terkait usulan peninjauan kembali formula penetapan UMP.

              Dalam surat itu, Anies menjelaskan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta diharuskan untuk
              menerapkan penghitungan UMP sama persis atau sesuai dengan formula Peraturan Pemerintah
              (PP) Nomor 36 Tahun 2021yang dituangkan kembali menjadi Keputusan Gubernur (Kepgub)
              Nomor 1395 Tahun 2021 tentang UMP Tahun 2022.

              Kemudian,  Pemprov  DKI  diharuskan  untuk  menetapkan/mengumumkan  sebelum  tanggal  21
              November 2021. Kepgub, lanjut dia, dibuat semata-mata agar tidak melanggar ketentuan di
              atas.

              "Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melihat ada ketidaksesuaian dan tidak terpenuhinya
              rasa  keadilan  antara  formula  penetapan  UMP  dari  Kementerian  Ketenagakerjaan  Republik
              Indonesia dengan kondisi senyatanya di lapangan," kata Anies.

              Berdasarkan formula dari PP Nomor 36 Tahun 2021, kenaikan UMP di DKI Jakarta tahun 2022
              hanya sebesar Rp 37.749 atau 0,85 persen menjadi Rp 4.453.935 per bulan. Kenaikan yang
              hanya  sebesar  Rp  38  ribu  idibandingkan  pada  2021,  irasa  amat  jauh  dari  layak  dan  tidak
              memenuhi asas keadilan.

              Hal itu, mengingat peningkatan kebutuhan hidup pekerja atau buruh terlihat dari inflasi di DKI
              Jakarta yaitu sebesar 1,14 persen. Sebagai informasi, dalam kurun waktu enam tahun terakhir
              rata-rata kenaikan UMP DKI Jakarta adalah sebesar 8,6 persen yakni pada 2016 sebesar 14,8
              persen.

              Kemudian, pada 2017 sebesar 8,2 persen, pada 2018 sebesar 8,7 persen,pada 2019 sebesar 8
              persen,pada 2020 mencapai 8,5 persen. dan pada 2021 sebesar 3,2 persen. Selain itu, lanjut
              dia, terdapat dinamika pertumbuhan ekonomi yang tidak semua sektor lapangan usaha saat
              pandemi Covid-19 mengalami penurunan.

              Sebagian sektor, menurut Anies, bahkan mengalami peningkatan. Misalnya, sektor transportasi
              dan pergudangan, informasi dan komunikasi, jasa keuangan, jasa kesehatan dan kegiatan sosial
              berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-
              2021.

              Sedangkan,  kata  Anies,  Provinsi  DKI  Jakarta  merupakan  satu-satunya  provinsi  yang  tidak
              memiliki upah minimum kabupaten/kota (UMK), sehingga UMP menjadi ketetapan final yang
              berlaku di semua wilayah kota/kabupaten.



                                                           460
   456   457   458   459   460   461   462   463   464   465   466