Page 597 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 NOVEMBER 2021
P. 597

Menurut pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, selama proses pembentukan UU
              Ciptaker,  pemerintah  dan  membuka  diri  terhadap  masukan  dari  berbagai  pihak,  termasuk
              kalangan akademisi dan buruh. Adi juga mengingatkan, demo yang menolak UU Ciptaker baru
              muncul setelah UU disahkan. "Saat proses pembuatan kan buruh dan sejumlah pihak pun kan
              bisa  saja  menyampaikan  draft  UU  tandingan  misalnya.  Pemerintah  dan  sebenarnya  terbuka
              terhadap masukan dari siapapun," katanya.

              Adi juga menyatakan, yang terjadi sebenarnya, banyak pihak tidak memberikan masukan saat
              proses pembuatan UU karena rumitnya permasalahan. Apalagi UU Ciptaker merangkum banyak
              UU.

              Sementara  Direktur  Riset  Center  of  Reform  on  Economics  (CORE)  Indonesia,  Piter  Abdullah
              menganggap, soal transparansi bersifat sangat subjektif, tergantung siapa yang menilai. Yang
              jelas,  proses  pembuatan  UU  Ciptaker  sama  persis  dengan  pembuatan  UU  yang  lain,  dalam
              menampung aspirasi dari masyarakat.

              Keduanya juga tidak sependapat dengan pandangan sejumlah buruh bahwa penetapan upah
              minimum  provinsi  (UMP)  otomatis  gugur  dengan  adanya  putusan  MK. Sebab, tanpa  ada  UU
              Ciptaker pun pemerintah memiliki kewenangan untuk menetapkan upah. Bahkan, Adi menyebut
              pernyataan  buruh  soal  UMP  yang  harus  batal  karena  putusan  MK  sebagai  hal  yang  tidak
              nyambung.

              Selanjutnya  Adi  menilai,  putusan  MK  tentang  UU  Ciptaker  bersifat  paradoks.  Sebab,  MK
              menganggap UU Cipta Kerja bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945 tapi di sisi lain
              MK  memberi  waktu  2  tahun  untuk  revisi  Undang-undang  tersebut.  Akibatnya,  putusan  MK
              menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

              Meskipun demikian, Adi yakin putusan MK tidak akan berdampak banyak terhadap dunia usaha
              karena  sebagian  dari  Undang-undang  tersebut  sudah  berjalan  untuk  melakukan  recovery
              ekonomi. "Bahkan Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri
              Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bahlil Lahadalia sudah berhasil menarik
              sejumlah investor dari luar negeri setelah lahirnya UU Ciptaker. Selain itu, dunia usaha juga
              masih berjalan seperti biasa," kata Adi.

              Sedangkan Piter menyatakan, bisa jadi putusan MK akan membuat dunia usaha berskala besar
              atau  investor  dari  luar  negeri  akan  bersikap  wait  and  see.  Tapi  jika  pemerintah  dan  bisa
              melakukan  revisi  UU  Ciptaker  dalam  waktu  secepatnya,  hal  itu tidak  akan  menjadi  masalah.
              "Selain itu, semua ini tergantung faktor komunikasi pemerintah dan kepada masyarakat. Jika
              komunikasinya tidak baik, hal yang baik pun bisa tidak diterima dengan baik," katanya.

              Namun Adi mengingatkan, tahun depan merupakan tahun politik menjelang Pemilu. Di tahun
              politik,  katanya,  bisa  muncul  pihak-pihak  yang  mengganggu  proses  revisi  undang-undang
              Ciptaker. Karena itu, dia berharap, revisi UU Ciptaker bisa selesai dalam waktu singkat untuk
              menghindari adanya politisasi oleh pihak tertentu.

              Sementara itu, Piter Abdullah mengatakan, putusan MK tidak menyangkut substansi dan tidak
              mengabulkan  tuntutan  pihak  penggugat.  Sebab,  putusan  hanya  berkaitan  dengan  prosedur
              pembuatan  Undang-undang.  MK  juga  tidak  menggugurkan  apa  yang  sudah  dibuat  bersama
              pemerintah.

              Selain itu, Piter juga yakin pemerintah dan akan segera memenuhi perintah MK. Dia yakin, tidak
              akan  ada  persoalan  besar  dalam  melakukan  revisi  UU  Ciptaker  karena  posisi  pemerintah  di
              parlemen saat ini sangat kuat.***.



                                                           596
   592   593   594   595   596   597   598   599   600   601   602