Page 602 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 NOVEMBER 2021
P. 602

Yang  masih  bertahan  dengan  bisnis  bukan  tanpa  masalah.  Para  manajer  HR  di  berbagai
              perusahaan selalu pusing mengatur struktur upah akibat kenaikan upah minimum setiap tahun.
              Selama 10 tahun terakhir upah naik di kisaran 10-15% per tahun. Pernah ada "kejadian luar
              biasa", upah minimum naik sebesar 40% pada 2012.

              Setiap kali upah naik, perusahaan harus menaikkan pula upah karyawan di atas kelompok yang
              menerima  upah  minimum.  Kalau  tidak,  tidak  akan  ada  perbedaan  upah  antara  golongan
              terbawah dengan golongan di atasnya. Tapi tentu saja kenaikan upah di golongan atas tidak
              serta merta bisa mengikuti nominal atau persentase kenaikan upah minimum. Kalau dinaikkan
              sebesar itu, sebentar saja perusahaan sudah bangkrut.

              Yang dilakukan adalah menaikkan upah golongan di atas upah minimum lebih kecil dari kenaikan
              upah  minimum.  Itu  dilakukan  terus  setiap  tahun.  Yang  terjadi  adalah  kenaikan  yang  tidak
              seimbang. Di atas kenaikannya lambat, di bawah kencang.

              Selama  10  tahun  terakhir  telah  terjadi  penurunan  selisih  upah  antara  karyawan  berupah
              minimum dengan golongan di atasnya. Artinya, golongan di atas menerima upah yang nyaris tak
              berbeda dengan upah minimum. Jadi, tak banyak lagi perbedaan antara orang dengan jabatan
              dengan operator biasa.

              Keadaan ini tentu berpengaruh pada motivasi kerja. Orang termotivasi kalau ia digaji lebih tinggi
              dari orang lain yang jabatannya lebih rendah. Yang jabatannya rendah termotivasi untuk bekerja
              giat  agar  bisa  naik  ke  jabatan  yang  lebih  tinggi.  Kalau  tingginya  jabatan  tidak  memberikan
              perbedaan penghasilan, orang tak lagi berminat untuk bekerja giat.

              Tapi apakah buruh memang seharusnya diupah murah? Tidak. Sama seperti perusahaan, ada
              standar minimum untuk mereka bisa hidup dengan status buruh. Kalau standar minimum itu
              tidak terpenuhi, mustahil bagi mereka untuk bekerja sebagai buruh.

              Persoalannya, bagaimana standar itu ditetapkan? Pemerintah menetapkan standar berbasis pada
              berapa biaya yang diperlukan untuk hidup. Standar ini konyol, karena tidak berhubungan dengan
              bisnis perusahaan. Berapa besar kebutuhan hidup buruh bukan sesuatu yang harus dipikirkan
              oleh pengelola perusahaan. Mereka tidak punya pengaruh untuk menaikkan atau menurunkan
              angka kebutuhan itu.

              Yang harus dipikirkan oleh pengelola perusahaan adalah bagaimana biaya-biaya produksi, yang
              salah satu komponennya adalah biaya buruh, masih lebih kecil daripada harga penjualan. Kalau
              upah terus naik tanpa bisa mereka tolak, suatu saat biaya-biaya tadi tidak lagi lebih kecil dari
              nilai penjualan. Di titik itu perusahaan merugi dan akan bangkrut.

              Pengelola  perusahaan  sebenarnya  hanya  perlu  mengatur  berapa  biaya  produksi  yang  patut.
              Dalam struktur biaya itu ada komponen upah buruh. Apakah upah yang dihasilkan dari formula
              itu nilainya bisa memenuhi kebutuhan minimum buruh atau tidak, sebenarnya itu bukan urusan
              perusahaan.

              Kenapa  kesannya  seperti  tidak  peduli?  Bukan  begitu.  Sekali  lagi,  berapa  biaya  hidup  buruh,
              bukan hal yang bisa dipengaruhi oleh perusahaan. Yang bisa mempengaruhi adalah pemerintah.


              Apa  saja  komponen  kebutuhan  hidup  buruh?  Pangan,  sandang,  perumahan,  transportasi,
              pendidikan anak, perawatan kesehatan, komunikasi, hiburan, dan sebagainya. Pihak mana yang
              berperan menentukan nilai biaya-biaya itu? Pemerintah.

              Misalnya  begini.  Buruh  perlu  membayar  cicilan  rumah.  Cicilan  rumah  tinggi.  Karena  itu
              perusahaan perlu membayar buruh lebih tinggi agar mereka bisa membayar cicilan rumah. Ini
              sistem yang timpang. Sistem yang tepat adalah perusahaan memberikan upah dengan besaran

                                                           601
   597   598   599   600   601   602   603   604   605   606   607