Page 130 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 07 JULI 2020
P. 130
tuduhan meracuni majikan dan bebas dari ancaman hukuman mati di Arab Saudi. Ety tiba di
Bandara Soekarno Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, Senin (6/7/2020) sore.
TKW BEBAS DARI HUKUMAN MATI, JAZILUL FAWAID: SATU NYAWA SANGAT
BERHARGA
TANGERANG - Wakil Ketua MPR, Jazilul Fawaid menyambut kedatangan Ety Binti Toyib Anwar
, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Majalengka, Jawa Barat yang dipenjara sejak 2002 atas
tuduhan meracuni majikan dan bebas dari ancaman hukuman mati di Arab Saudi.
Ety tiba di Bandara Soekarno Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, Senin (6/7/2020) sore.
"Alhamdulillah di masa pandemi COVID-19 yang memakan banyak korban meninggal dunia, tapi
ada satu jiwa yang bisa kita selamatkan. Satu nyawa warga negara Indonesia sangat berharga.
Menyelamatkan satu jiwa warga negara Indonesia sama seperti menyelamatkan kita semua.
Itulah inti kemanusiaan," ujar Jazilul Fawaid usai bertemu dengan Ety Binti Toyib di Ruang VIP
Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin sore (6/7/2020).
Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziah dan Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
(BP2MI) Benny Ramdani ikut menyambut kedatangan Ety.
Ety Binti Toyib bisa bebas dari hukuman mati setelah Pemerintah Indonesia dengan dukungan
dari berbagai kalangan, termasuk Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama
(LAZISNU) dan PKB, membayarkan diyat (uang darah) yang diminta keluarga majikan.
"Ini hukum di Arab Saudi. Qisas itu hukum nyawa dengan nyawa. Tapi bisa dilakukan dengan
membayar diyat, pihak keluarga yang dibunuh memberikan pemaafan," jelas Jazilul yang akrab
disapa Gus Jazil.
Gus Jazil mengungkapkan semula ahli waris majikanya meminta diyat yang tinggi sekali, sebesar
30 juta real atau Rp107 miliar agar diampuni dan tidak dieksekusi.
Tetapi dengan berbagai pendekatan akhirnya ahli waris bersedia dengan diyat sebesar Rp15,2
miliar. Atas inisiator dari teman-teman PKB dengan LAZISNU sejak dua tahun lalu kemudian
mengumpulkan dana untuk membayar diyat untuk membebaskan Ety Binti Toyib dari ancaman
hukuman mati.
Kasus Eti sendiri terjadi sejak 2001 dan ia pun sudah menjalani masa penahanan selama 19
tahun.
"Karena itu kami dari Pimpinan MPR selalu mengajak untuk mengedepankan kemanusiaan dan
kegotongroyongan di semua situasi kepada siapapun. Apalagi ini adalah pejuang devisa yang
bekerja di luar negeri. Ibu Eti bekerja hanya 1 tahun 8 bulan, tapi dipenjara 19 tahun. Ini tidak
boleh terulang lagi kepada warga kita, saudara kita yang berjuang di luar negeri tapi kemudian
terkena kasus," katanya.
Menurut Wakil Ketua Umum DPP PKB ini, masih ada PMI yang terancam hukuman mati di Arab
Saudi.
"Tapi pesannya adalah bahwa siapapun dan apapun atas nama kemanusiaan tidak boleh ada
warga kita yang kemudian dihukum pancung atau dihukum mati untuk kasus yang memang
belum clear seperti Ibu Ety ini," jelasnya.
Sementara itu, Ety mengucapkan rasa syukur setelah bebas dari hukuman dan kembali ke Tanah
Air.
129

