Page 241 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 07 JULI 2020
P. 241

positive - Ida Fauziah (Menteri Ketenagakerjaan) PMI juga dilindungi dari segi hukum, sosial,
              dan ekonomi

              positive - Ida Fauziah (Menteri Ketenagakerjaan) Sehingga kedepannya para nelayan atau pun
              awak kapal perikanan kita tidak lagi hanya bekerja di kapal asing tapi juga kapal Indonesia yang
              baik



              Ringkasan

              Ketua  Umum  Asosiasi Perusahaan  Jasa  Tenaga  Kerja    Indonesia    (Apjati),  Ayub  Basalamah
              mengungkapkan, nasib Anak Buah Kapal (  ABK  )  Indonesia  yang bekerja di  kapal  berbendera
              asing sangat rentan. Mereka sering menjadi korban kekerasan dan perbudakan.



              KERAP JADI KORBAN KEKERASAN DAN PERBUDAKAN, PERSOALAN ABK
              INDONESIA ADALAH PEKERJAAN RUMAH LAMA

              -  Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja  Indonesia  (Apjati), Ayub Basalamah
              mengungkapkan, nasib Anak Buah Kapal (  ABK  )  Indonesia  yang bekerja di  kapal  berbendera
              asing sangat rentan. Mereka sering menjadi korban kekerasan dan perbudakan.

              Dikatakan, persoalan  ABK  memang merupakan pekerjaan rumah lama baik bagi pemerintah
              maupun bagi mining agency (perusahaan yang memiliki izin resmi untuk menempatkan  ABK  di
              luar negeri).

              "Ujung dari permasalahan ini berpusat belum adanya payung hukum yang memberi perhatian
              khusus terhadap pengaturan tata kelola niaga dan perlindungan  ABK  ," ujar Ayub Basalamah
              di Jakarta, Minggu 5 Juli 2020.

              Oleh  karena  itu,  kebijakan  Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziah  yang  memberi  perhatian
              terhadap  perbaikan  tata  kelola  penempatan  dan  perlindungan    ABK    Indonesia    di    kapal
              berbendera asing, patut mendapat apresiasi.

              "Kami pasti akan dukung dan siap bersinergi dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker)
              untuk mengadakan perbaikan tata kelola penempatan dan perlindungan  ABK  Indonesia  di
              kapal  bendera asing," tegasnya.

              Menurut Ayub, Undang-Undang No. 39 tahun 2004 memang sebelumnya memberi amanat agar
              ada Undang-Undang yang mengatur khusus soal masalah  ABK  ini. Sayangnya, begitu berganti
              Undang-Undang No. 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran  Indonesia  , persoalan
              aturan khusus soal  ABK  ini belum disiapkan pemerintah.

              "Karena itu, Apjati siap bersinergi dengan pemerintah untuk memberi masukan-masukan bagi
              perbaikan nasib  ABK  kedepannya," jelas Ayub.

              Terkait nasib  ABK  yang ditempatkan di  kapal  berbendera  Tiongkok  , Ayub Basalamah
              mengatakan, bahwa sudah saatnya penempatan  ABK  ke  Tiongkok  diatur melalui perjanjian
              Bilateral antar kedua negara.
              "Selama ini penempatan PMI baik di sektor manufaktur di perikanan, galangan  kapal  maupun
              ABK  masih dilakukan swasta maupun perorangan," kata Ayub.

              Dengan model penempatan seperti ini, bisa dipastikan bahwa nasib  ABK  terkait perlindungan,
              kontrak kerjanya, besaran gaji yang dibayar tentu tidak akan jelas.
                                                           240
   236   237   238   239   240   241   242   243