Page 156 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 03 JULI 2020
P. 156

JAKARTA    -  Indonesia  Corruption  Watch  (ICW)  mengadukan  program    Kartu  Prakerja    ke
              Ombudsman atas dugaan maladministrasi, Kamis (2/7/2020). Laporan itu berdasarkan kajian
              mendalam dan adanya temuan fakta.

              "Program  ini  berpotensi  merugikan  keuangan  negara,  membiarkan  praktik  monopoli  terjadi,
              hingga adanya nuansa konflik kepentingan. Sederhananya, jika program ini tetap dipaksakan
              berjalan  maka  dapat  melanggar  ketentuan  peraturan  perundang-undangan  dan  berpotensi
              terjadinya tindak pidana korupsi," ujar Peneliti ICW Kurnia Ramadhana kepada  SINDOnews  ,
              Kamis (2/7/2020).

              (   "Berdasarkan tugas pokok dan fungsi penyelenggaraan, program ini lebih tepat jika diberikan
              kepada  Kementerian  Ketenagakerjaan.  Apalagi  jika  merujuk  pada  Rencana  Pembangunan
              Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024, salah satu arah kebijakan untuk meningkatkan
              produktivitas dan daya saing yakni melalui pendidikan dan pelatihan vokasi berbasis kerja sama
              industri," jelasnya.

              Kebijakan itu dilakukan dengan cara meningkatkan akses ke pelatihan vokasi melalui penerapan
              Kartu Prakerja. Ia meyakini hal itu berada dalam wilayah Kemenaker.

              "Dengan  menempatkan  Kemenko  Perekonomian  sebagai  pelaksana  teknis  program  Kartu
              Prakerja,  timbul  konflik  peran  secara  internal,  karena  fungsi  pengawasan  dan  fungsi
              pelaksanaan  teknis  menyatu  pada  satu  kementerian.  Sehingga,  ini  dipandang  sebagai
              maladministrasi karena melampaui wewenang sesuai dengan Pasal 1 ayat (3) Undang-undang
              Nomor 37 Tahun 2008," terangnya.

              Selain  itu,  ICW  menilai  mekanisme  kurasi  lembaga  pelatihan  tidak  layak  dan  mengandung
              konflik kepentingan. Berdasarkan Pasal 27 Peraturan Menteri Perekonomian Nomor 3 Tahun
              2020,  sudah  dijelaskan  bahwa  jangka  waktu  yang  dibutuhkan  oleh  Platform  Digital  dan
              Manajemen Pelaksana untuk melakukan proses kurasi yakni paling lama 21 hari sampai akhirnya
              bisa ditetapkan sebagai lembaga pelatihan. (   1.118 WNI di Luar Negeri Positif Corona, Ini
              Sebarannya  )  Namun faktanya, rentang waktu antara proses pendaftaran gelombang I sampai
              penutupan hanya lima hari saja. "Tentu waktu ini dipandang tidak cukup untuk menghasilkan
              lembaga pelatihan yang benar-benar teruji dan profesional. Bahkan, dapat berpotensi merusak
              kualitas pelatihan yang sebelumnya dijanjikan akan diberikan," tukasnya.

              (kri).





























                                                           155
   151   152   153   154   155   156   157   158   159   160   161