Page 31 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 03 JULI 2020
P. 31

Persoalan pada program Kartu Prakerja terus bermunculan. Terbaru, ditemukan masalah pada
              paket  bundling  program  pelatihan  Kartu  Prakerja  yang  disediakan  oleh  perusahaan  mitra
              penyedia paket pelatihan sehingga harus dihentikan. Ini menambah deretan panjang persoalan
              yang muncul pada program andalan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini.

              Telepon seluler Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari
              kemarin berdering lebih sering dari biasanya. Pemicunya adalah beredarnya surat dari Badan
              Pelaksana (Project Management Officer/PMO) Kartu Prakerja sehari sebelumnya yang ditujukan
              kepada sejumlah perusahaan mitra. Karena isi surat tersebut Denni harus melayani pertanyaan
              banyak wartawan.

              Denni menjelaskan bahwa memang manajemen pelaksana melarang para mitra menyediakan
              paket  pelatihan  secara  bundling.  Hal  itu  disebabkan  manajemen  pelaksana  sulit  untuk
              memastikan  keikutsertaan  peserta  dalam  keseluruhan  program  yang  ditawarkan  kepada
              peserta. Perusahaan platform digital yang diajak kerja sama, yakni Bukalapak, MauBelajarApa,
              PijarMahir, Pintaria, SekolahMu, Sisnaker, Skill Academy by Ruangguru, dan Tokopedia.

              Namun,  dia  menegaskan  bahwa  yang  dihentikan  itu  paket  pelatihan,  bukan  pelatihan  atau
              programnya. Jika selama ini paket pelatihan online dibeli secara paket, sekarang hanya boleh
              eceran.  "Hanya  pelatihan  digitalnya  yang  dihentikan,  tapi  program  pelatihan  lainnya  masih
              berjalan, tapi dijual secara eceran," ujar Denni saat dihubungi kemarin.

              Kasus penghentian model penjualan paket pelatihan oleh Badan Pelaksana PMO Kartu Prakerja
              ini seolah mengonfirmasi banyaknya persoalan yang timbul dalam pelaksanaan Kartu Prakerja.
              Sejak diluncurkan April lalu kontroversi memang menyertai program yang dianggarkan Rp 20
              triliun  ini.  Akibatnya,  tidak  sedikit  yang  meminta  agar  program  yang  bertujuan  mengurangi
              pengangguran ini dihentikan.

              Salah satu persoalan Kartu Prakerja adalah pemerintah tidak memiliki kriteria yang pasti siapa
              saja  penerima  kartu  tersebut.  Kartu  Prakerja  tidak  memiliki  acuan  atau,  yang  pasti,  hanya
              disebutkan  ditujukan  bagi  penganggur  atau  mereka  yang  terkena  PHK.  Berbeda,  misalnya,
              dengan Kartu Miskin dan Kartu Indonesia Pintar yang memiliki basis data.

              Sebelum ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga melihat sejumlah potensi penyimpangan
              pada program ini sehingga memberikan rekomendasi untuk dijalankan. Kajian KPK menemukan
              adanya  potensi  kerugian  keuangan  negara  pada  metode  pelaksanaan  program  pelatihan.
              Potensi ini muncul karena peserta sudah mendapatkan insentif, meskipun belum menyelesaikan
              seluruh pelatihan yang sudah dibeli. Artinya, negara tetap membayar pelatihan yang tidak diikuti
              oleh peserta.

              Setelah  rekomendasi  KPK,  yang  terbaru  masalah  pada  paket  bundling.  Ini  berarti  sudah
              selayaknya program ini dirombak total.
              Ekonom  dari  Institute  for  Development  of  Economics  and  Finance  (Indef)  Bhima  Yudhistira
              Adhinegara berpendapat, pemilihan platform pelatihan memang dari awal sudah bermasalah.
              Dia meminta pelatihan distop total. Kalau dipaksakan, ada potensi kerugian keuangan negara.
              "Baik penjualan pelatihan yang paket itu maupun program lain belum efektif untuk menstimulasi
              ekonomi.  Ini  kan  peserta  korban  PHK,  harusnya  diberi  bantuan  langsung,  bukan  dikasih
              pelatihan yang videonya bisa dilewat," katanya ketika dihubungi kemarin.

              Penghentian program ini logis demi kepentingan evaluasi. Dari situ baru kemudian diperjelas
              sasaran yang harus dicapai dari program. Misalnya, harus ada jaminan bahwa penerima Kartu
              Prakerja,  khususnya  korban  PHK,  bisa  diterima  bekerja.  Menurut  Bhima,  itu  penting  agar
              program  prioritas  pemerintah  di  bidang  tenaga  kerja  ini  mampu  mempertanggungjawabkan
              lulusan pelatihan prakerja ini ditampung ke perusahaan mana dan sektor apa saja.

                                                           30
   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36