Page 26 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 03 JULI 2020
P. 26

dalam Kartu Prakerja," ujar peneliti ICW Wana Alamsyah melalui siaran di Youtube 'Sahabat
              ICW, Kamis (2/7).



              ICW LAPORKAN PROGRAM KARTU PRAKERJA KE OMBUDSMAN

              Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan dugaan maladministrasi program Kartu Prakerja
              ke  Ombudsman  RI.  Terdapat  sejumlah  potensi  pelanggaran  dalam  program  Presiden  Joko
              Widodo tersebut. "Kami menduga ada setidaknya enam pelanggaran dugaan maladministrasi
              dalam Kartu Prakerja," ujar peneliti ICW Wana Alamsyah melalui siaran di Youtube 'Sahabat
              ICW, Kamis (2/7).

              NERACA

              Dugaan pelanggaran itu karena pemilihan platform digital yang tidak sesuai dengan Peraturan
              Menteri Koordinator Bidang Perekonomian 3/2020. Menurut Wana, perjanjian kerja sama antara
              manajemen  pelaksana  dengan  platform  digital  dilakukan  pada  20  Maret  2020.  Sementara
              Permenko 3/2020 yang mengatur teknis perjanjian kerja sama baru terbit pada 27 Maret 2020.
              "Patut diduga perjanjian kerja sama itu bentuk maladministrasi karena dasar hukum teknis yang
              mengatur perjanjian kerja sama belum ada," ujarnya.
              Dugaan  pelanggaran  selanjutnya  adalah  pemilihan  platform  digital  yang  tak  menggunakan
              mekanisme  lelang  pengadaan  barang  dan  jasa.  Menurut  Wana,  pemerintah  beralasan
              penunjukkan langsung delapan platform digital diperbolehkan karena ada keterbatasan waktu
              dan uji coba program.

              Padahal dalam Peraturan Presiden 16/2018 tentang Pengadaan Barang dan jasa, menjelaskan
              bah-wa  pengadaan  merupakan  kegiatan  pengadaan  barang  dan  jasa  yang  menggunakan
              APBN/APBN mulai dari identifikasi kebutuhan hingga serah terima hasil pekerjaan.
              "Sehingga mekanisme pemilihan platform digital sudah seharusnya menggunakan skema yang
              diatur  dalam  Perpres,  tapi  pemerintah  tidak  menggunakan  mpka-nisme  tersebut,"  tutur  dia
              seperti dikutip cnnindonesia. com.

              Pemerintah juga diduga maladministrasi lantaran proses kurasi platform digital yang tidak layak.
              Sesuai  Permenko  Perekonomian,  jangka  waktu  yang  dibutuhkan  manajemen  pelaksana  dan
              platform digital untuk melakukan kurasi paling lama 21 hari sampai bisa ditetapkan sebagai
              lembaga pelatihan.

              Namun faktanya, menurut Wana, proses pendaftaran sampai penutupan hanya berjarak lima
              hari. "Ada gap waktu antara manajemen pelaksana dengan platform digital tidak melakukan
              kurasi dengan baik," ujamya.

              Selain itu, dugaan pelanggaran terjadi dalam penempatan program Kartu Prakerja yang tidak
              sesuai  dengan  kewenangan  Ke-menko  Perekonomian.  Menurut  Wana,  pengelolaan  Kartu
              Prakerja semestinya menjadi kewenangan Kementerian Ketenagakerjaan.

              "Dengan  menempatkan  Ke-menko  Perekonomian  sebagai  pelaksana  teknis  program  Kartu
              Prakerja, timbul konflik internal karena fungsi pengawasan dan pelaksanaannya menyatu di satu
              ke-menterian," katanya.

              Dugaan  pelanggaran  lain,  lanjut  Wana,  adalah  pemilihan  platform  digital  yang  tidak  sesuai
              prinsip pengadaan barang dan jasa pemerintah. Wana mengatakan pemerintah tak memberikan
              informasi  kepada  masyarakat  mengenai  kesempatan  untuk  menjadi  mitra  program  Kartu
              Prakerja.

                                                           25
   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31