Page 76 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 JUNI 2020
P. 76

Jika 5,3 juta PMI versi World Bank diamini, maka negara telah kehilangan potensi devisa dalam
              bentuk remittance sekitar Rp 318 triliun. Alhasil saat ini negara harus hadir dan hukum harus
              bekerja.  Dia  mengancam  kepada  para  mafia  pengiriman  PMI  ilegal,  kehadirannya  di  tubuh
              BP2MI bakal menjadi mimpi buruk.

              "Saya katakan dalam beberapa kesempatan, siapapun atau perusahaan-perusahaan pecundang,
              mereka yang disebut para pengkhianat merah putih yang terlibat pada kejahatan bisnis kotor,
              saya akan menjadi mimpi buruk bagi mereka," cetusnya.
              Sejauh  ini  BP2MI  mencatat,  angka  3,7  PMI  telah  menyumbangkan  Rp  158  triliun  sebagai
              sumbangan devisa negara. Politisi Partai Hanura itu telah menyiapkan langkah-langkah untuk
              memerangi para mafia pengiriman PMI ilegal. Apalagi dia tahu siapa di balik kejahatan tersebut.

              "Mereka adalah pemilik modal, pemilik kapital yang berkelompok dengan oknum-oknum di kursi
              kekuasaan.  Mereka  yang  hari  ini  mengenakan  atribut-atribut  kekuasaan  tapi  sesungguhnya
              mereka adalah peng khianat republik," kecamnya.

              Eks Senator asal Sulawesi Utara ini memastikan akan memimpin langsung perang ini dan akan
              mengambil alih tongkat komando sebagai panglima. Bisa dibayangkan jika data Wrorld Bank
              benar  adanya,  secara  otomatis  para  PMI  tersebut  tidak  berada  dalam  radar  perlindungan
              negara.

              "Walaupun jika ditanya mereka yang berangkat ilegal apakah negara akan tetap bertanggung
              jawab?  Tentu  negara  tidak  boleh  abai  dan  lalai  mengingat  semua  WNI  wajib  dilindungi,"
              sebutnya.

              Selain itu, dia pun akan mengakhiri stigma negatif yang sejak lama terpahat di tubuh PMI. Dia
              tidak ingin orang-orang beranggapan pekerjaan PMI adalah pekerjaan rendahan. "Dulu kalau
              kita  mendengar  PMI  yang  ada  di  telinga kita  adalah  cerita-cerita  miris.  Tentang  eksploitasi,
              kekerasan, pemerkosaan, pemotongan gaji. Stigma itu sekarang harus diakhiri," ujarnya.

              Pasalnya dengan remittance sumbangan yang cukup besar, rakyat harus mengerti PMI adalah
              pejuang  keluarga dan  negara.  Sehingga  paradigma  yang  harus dibangun  di  setiap  aparatur
              pemerintah khususnya BP2MI, PMI merupakan warga VVIP alias kelas atas.

              "Mereka adalah WNI istimewa. Apakah pejabat negara di di parlemen, kementerian dan lembaga
              memberikan  sumbangan  ke  negara  melalui  remittance?  Tidak.  Dengan  kata  lain,  segala
              kebutuhan PMI negara harus mempersiapkannya dengan penuh rasa hormat," pungkas Benny.

              Sebagai  contoh,  Benny  memimpikan  lounge  khusus  PMI  di  setiap  titik  embarkasi  Bandara
              Soekarno  Matta.  Sebelum  maupun  ketika  tiba  di  Tanah  Air.  PMI  bisa  menggunakan  semua
              fasilitas di dalamnya. "Hal ini bertujuan agar mereka mendapatkan kenyamanan, diperlakukan
              dengan penuh rasa hormat," harapnya.

              Dihubungi  terpisah.  Wakil  Ketua  Komisi  IX  DPR  Nihayatul  Wafiroh  mengapresiasi  program
              Kepala BP2MI. Kata dia, jika Benny Rhamdani serius mengimplementasikan programnya. Komisi
              IX akan mendukung secara penuh.

              Menurutnya, saat ini bukan hanya sekadar menyampaikan program tapi harus ada follow up.
              "Jadi saya tentu menunggu gebrakan-gebrakan Pak Benny. Kalau gebrakannya benar, sukses,
              manjur, berani, tentu kami sangat mendukung," ucapnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

              Meski demikian, dia mengingatkan tidak mudah mengimplementasikan perang terhadap mafia
              pengiriman PMI ilegal, mengingat anggaran BP2MI terbilang kecil. Apalagi urusan dan jumlah



                                                           75
   71   72   73   74   75   76   77   78   79   80   81