Page 491 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 NOVEMBER 2021
P. 491
PAKAR NILAI BURUH HARUS BIJAK KARENA EKONOMI MASIH PEMULIHAN
BANDUNG -- Penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) Jabar, masih menjadi polemik. Hal
tersebut, seiring adanya ancaman mogok nasional buruh yang menolak keputusan UMP Jabar
hanya naik Rp 31.135.
Menurut Ekonom dari Universitas Padjadjaran Ferry Hadiyanto, sebaiknya buruh lebih bijak
dalam meminta kenaikan upah minimum. Karena, saat ini, sektor industri masih dalam fase
memulihkan diri akibat hantaman pandemi Covid-19.
"Kalau misalnya terlalu tinggi, perusahaan kalau dapat keuntungan yang tadinya bisa untuk
investasi di 2022, sehingga kemudian merekrut kembali tenaga kerja yang tadinya menganggur
atau tenaga kerja baru. Tapi kalau begini kan uang profitnya hanya untuk tambahan upah," ujar
Ferry kepada wartawan, Rabu (24/11).
Ferry mencontohkan, kalau naiknya misal Rp 100 ribu saja, maka Rp 100 ribu dikali sekian
pekerja, itu akan menghabiskan keuntungan yang sebenarnya bisa digunakan untuk investasi
sumber daya manusia atau barang produksi untuk 2022.
Ferry mengatakan, sah-sah saja jika buruh menyalurkan aspirasi mereka terkait kenaikan UMP
dan UMK. "Kita saat ini lagi recovery dari pandemi Covid-19, banyak saudara yang terkena PHK
gara-gara COVID-19. Kalau seandainya nanti ekonomi sudah baik dan normal kembali, dan
tingkat kesejahteraan masyarakat sudah normal kembali, itu sah saja," katanya.
Ferry melihat sejumlah serikat buruh menuntut kenaikan upah karena melihat laju pertumbuhan
ekonomi yang menunjukkan tren positif. Misalnya, ekonomi di Jabar pada triwulan II/2021 secara
year on year (yoy) tumbuh melejit 6,13 persen, sedangkan secara kumulatif hingga triwulan
II/2021 tumbuh 2,54 persen. Hal ini menunjukkan pada triwulan II/2021 perbaikan ekonomi
sudah terlihat semakin membaik, setelah empat triwulan terakhir ekonomi terkonstraksi karena
dampak pandemi Covir-19.
"Perhitungan laju pertumbuhan ekonomi itu kan years on years, jadi kita baru mendapat
kenaikan ekonomi itu di kuartal kemarin, jadi satu kuartal kemarin itu dimasukin ke rumus, jadi
harus satu tahun full. Itu juga cuma 0, sekian persen saja, kemarin sempat naik jadi 6 persen,
sekarang turun lagi tapi sudah positif pergerakannya, tapi kan itu kuartal dan berangkatnya dari
negatif 4 untuk Jawa Barat," paparnya.
Jadi, kata Ferry, kalau dibilang pertumbuham ekonomi positif itu satu kuartal saja dan baru
kemarin, sama seperti inflasi. Sehingga, tidak cocok kalau dijadikan patokan untuk kenaikan UMK
dan tidak cocok dengan regulasinya.
"Kan tukang hitungnya BPS, jadi sudah jelas sebenarnya. Jadi, itulah yang menurut saya jangan
sampai sudah akan membaik secara ekonomi, lalu ada masalah lagi di sektor tenaga kerja," kata
Ferry.
490

