Page 495 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 NOVEMBER 2021
P. 495

Ringkasan

              Tuntut kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) sebesar 10 persen menjadi agenda utama
              aksi  belasan  ribu  buruh  yang  menggelar  aksi  demo  di  depan  kantor  Pemkab  Cianjur,  Jalan
              Siliwangi, kemarin (23/11). Selain itu buruh juga menolak pemberlakukan PP 36 tahun 2021
              tentang  Pengupahan.  Ketua  Federasi  Serikat  Pekerja  Metal  Indonesia  (FSPMI)/Konfederasi
              Serikat  Pekerja  Indonesia  (KSPI)  Cianjur,  Asep  Saepul  Malik  mengatakan,  buruh  yang  ikut
              melakukan aksi menuntut kenaikan UMK tahun 2022 sebanyak 15 ribu dari berbagai perusahaan.



              BURUH 'GOYANG' CIANJUR

              Tuntutan Kenaikan UMK Berbeda, KSPI 10 Persen dan SPN 21 Persen

              Tuntut kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) sebesar 10 persen menjadi agenda utama
              aksi  belasan  ribu  buruh  yang  menggelar  aksi  demo  di  depan  kantor  Pemkab  Cianjur,  Jalan
              Siliwangi, kemarin (23/11).

              Selain itu buruh juga menolak pemberlakukan PP 36 tahun 2021 tentang Pengupahan. Ketua
              Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI)/Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI)
              Cianjur, Asep Saepul Malik mengatakan, buruh yang ikut melakukan aksi menuntut kenaikan
              UMK tahun 2022 sebanyak 15 ribu dari berbagai perusahaan.

              "Prinsipnya kami menolak PP 36 tahun 2021 dan sama sesuai arahan dari Aliansi Buruh Nasional
              (SPN) kami menuntut kenaikan upah 10 persen. Hari ini (kemarin-red) pak bupati tidak mau
              menerima kami, katanya sih ke Mande ada acara di desa. Padahal buruh hampir 15 ribu yang
              datang. Kami sangat kecewa, kami besok juga dengan jumlah yang lebih besar akan datang
              lagi,"  kata  Asep  ke  sejumlah  awak  media  usai  melakukan  aksi  di  depan  Gerbang  Pandopo
              Pemkab Cianjur, kemarin (23/11).

              Dia  mengungkapkan,  aksi  tersebut  akan  terus  berlanjut  sampai  tanggal  25  November
              mendatang.

              "Harapannya mudah-mudahan bupati Cianjur bisa melihat bahwa upah di Cianjur ini terendah
              diantara  kabupaten  lain  seperti  Sukabumi,  Purwakarta  dan  Bandung  Barat.  Cianjur  paling
              rendah,  mudah-mudahan  hatinya  terketuk.  Sesuai  dengan  janji  kampanyenya  pada  saat
              mencalonkan," kata dia.
              Dia melanjutkan, jika berbicara tentang PP 36 tahun 2021 tentang Pengupahan, dia menilai jelas
              itu turunan dari Omnibuslaw. Omnibuslaw sendiri jelas kenaikan upah itu itu melihat inflasi dan
              pertumbuhan ekonomi.

              "Kalau PP 36 arahnya ke mana tidak jelas. Kenapa buruh tidak mau proses hukum terhadap PP
              36, kalau kita berproses hukum dari PP 36 sama dengan buruh mengakui Omnibuslaw," ungkap
              dia.

              Hanya, lanjut dia, SPN tidak melakukan secara proses hukum, namun pihaknya tetap melakukan
              aksi turun ke jalan.

              "Yang jelas kami sangat tidak setuju. Mudah-mudahan kebijakan pemerintah lebih pro terhadap
              pekerja," tutupnya.

              Sementara itu, aksi buruh juga terjadi di kawasan wisata Cipanas. Tidak kurang dari 1.000 buruh
              yang  tergabung  dalam  Serikat  Pekerja  Nasional  (SPN)  melakukan  orasi  penyampaian  atau
              penolakan upah murah.

                                                           494
   490   491   492   493   494   495   496   497   498   499   500