Page 499 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 NOVEMBER 2021
P. 499

Kemudian  Provinsi  NTT,  UMP  2022  naik  menjadi  Rp1.975.000.  Jumlah  tersebut  selisih
              kenaikannya dengan yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp9.126 atau 0,47 persen.
              Seharusnya, UMP 2022 NTT hanya naik 0,81 persen atau Rp1.965.874 dari UMP 2021 sebesar
              Rp1.950.000.

              Kemudian Provinsi Papua Barat menetapkan UMP 2022 sebesar Rp3.200.000. Jumlah tersebut
              selisih kenaikannya sebesar Rp18.660 atau 0,6 persen dari yang ditetapkan pemerintah pusat.

              Berdasarkan  hitungan  dari  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemenaker),  UMP  2022  Provinsi
              Papua Barat sebesar Rp3.181.339 atau 1,49 persen dari UMP 2021 Rp3.134.600.

              Selanjutnya,  Provinsi  Sulawesi  Tenggara  menetapkan  UMP  2022  naik  menjadi  Rp2.710.595.
              Jumlah tersebut selisih kenaikannya sebesar Rp134.578 atau 5.37 persen dari yang ditetapkan
              pemerintah.
              Seharusnya, UMP 2022 Sulawesi Tenggara hanya naik 0,94 persen atau Rp2.576.016 dari UMP
              2021 sebesar Rp2.552.014.

              Sebelumnya,  Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah  mengingatkan  kepada  gubernur  untuk
              mengikuti aturan upah minimum dari pemerintah pusat. Jika tidak, para kepala daerah akan
              dikenakan sanksi aturan.

              Sanksi tersebut tercantum dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah dan
              Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang mengatur penetapan
              upah  adalah  SE  Mendagri  Nomor  561/6393/SC  hal  Penetapan  Upah  Minimum  2022  kepada
              seluruh gubernur.

              Dalam Pasal 68 UU Nomor 23 Tahun 2014 tertulis: (1) Kepala daerah dan/atau wakil kepala
              daerah yang tidak melaksanakan program strategis nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal
              67  huruf  f  dikenai  sanksi  administratif  berupa  teguran  tertulis  oleh  Menteri  untuk  gubernur
              dan/atau  wakil  gubernur  serta  oleh  gubernur  sebagai  wakil  Pemerintah  Pusat  untuk  bupati
              dan/atau wakil bupati atau wali kota dan/atau wakil wali kota.

              (2) Dalam hal teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah disampaikan 2 (dua)
              kali berturut-turut dan tetap tidak dilaksanakan, kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah
              diberhentikan sementara selama 3 (tiga) bulan.





























                                                           498
   494   495   496   497   498   499   500   501   502   503   504