Page 525 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 NOVEMBER 2021
P. 525

Ringkasan

              Upah  Minimum  Provinsi  atau  UMP  2022  mengalami  kenaikan  rata-rata  nasional  1,09%.
              Komposisi  kenaikan  UMP  2022  tersebut  mengikuti  Peraturan  Pemerintah  (PP)  No.  36/2021
              tentang Pengupahan. Kenaikan upah minimum ini lantas banyak diprotes karena dinilai tidak
              sejalan dengan tuntutan rakyat dan kaum buruh. Namun, pemerintah punya alasan tersendiri
              mengapa UMP 2022 hanya dinaikan 1,09%.



              DEBAT UMP 2022 BERKEPANJANGAN

              JAKARTA-Upah Minimum Provinsi atau UMP 2022 mengalami kenaikan rata-rata nasional 1,09%.
              Komposisi  kenaikan  UMP  2022  tersebut  mengikuti  Peraturan  Pemerintah  (PP)  No.  36/2021
              tentang Pengupahan. Kenaikan upah minimum ini lantas banyak diprotes karena dinilai tidak
              sejalan dengan tuntutan rakyat dan kaum buruh. Namun, pemerintah punya alasan tersendiri
              mengapa UMP 2022 hanya dinaikan 1,09%.

              Menteri  Ketenagakerjaan  (Menaker)  Ida  Fauziyah  menyatakan  upah  minimum  di  Indonesia
              masih  terlalu  tinggi.  Bahkan,  sebagian  besar  pengusaha  disebutnya  tidak  mampu  lagi
              menjangkaunya. Itu terlihat dari banyak pengusaha yang menjadikan upah minimum sebagai
              upah efektif. Sehingga kenaikan upah bagi karyawan cenderung hanya mengikuti upah minimum
              tanpa didasari oleh kinerja individu.

              "Kondisi  upah  minimum  yang  terlalu  tinggi  menyebabkan  sebagian  besar  pengusaha  tidak
              mampu menjangkaunya, dan akan berdampak negatif terhadap implementasinya di lapangan,"
              ujar Ida sebagaimana dikutip Liputan6.com, Selasa (23/11/2021).
              Menurut dia, upah minimum ketinggian ini bisa terlihat dari metode Kaitz Index. Perhitungannya,
              dengan  membandingkan  besaran  upah  minimum  yang  berlaku  dengan  median  upahnya.
              Kenyataannya, besaran upah minimum di seluruh wilayah Indonesia ternyata sudah melebihi
              median upahnya. Indonesia jadi satu-satunya negara dengan Kaitz Index lebih besar dari 1, di
              mana idealnya berada pada kisaran 0,4%-0,6%," ungkap Ida.

              Anggota  Staf  Khusus  Menaker  Dita  Indah  Sari  coba  menjelaskan  lebih  detil  soal  pernyataan
              Menaker terkait upah minimum yang masih terlalu tinggi. Itu kemudian dikomparasikan dengan
              nilai produktivitas tenaga kerja Indonesia yang terbilang rendah.

              "Ketika Ibu (Menaker Ida Fauziyah) mengatakan upah minimum yang ada ketinggian, itu bukan
              menganggap  pekerja  itu  sah  mendapatkan  upah  lebih  rendah.  Ketinggian  itu,  komparasinya
              kalau dilihat dari nilai produktivitas, kemampuan kita bekerja efektif dan efisien," terangnya.
              Dita  memaparkan,  nilai  produktivitas  buruh  cenderung  lebih  rendah  dibandingkan  dengan
              upahnya. Bahkan, nilai efektivitas tenaga kerja di Indonesia masuk dalam urutan ke-13 di Asia.

              "Baik  jam  kerjanya  maupun  tenaga  kerjanya,  ini  umum  secara  nasional.  Komparasinya
              ketinggian itu [antara upah minimum dan produktivitas], tapi bukan berarti semua orang layak
              dikasih gaji kecil," bebernya.

              Dari sisi jam kerja, Dita melanjutkan, Indonesia sudah memberikan terlalu banyak hari libur bagi
              pekerja. Jika dibandingkan dengan negara tetangga lain, jumlah hari libur di Indonesia masih
              tergolong lebih banyak.

              "Dari segi jam kerja dan jumlah libur kita ini gede, banyak," sebutnya.

                                                           524
   520   521   522   523   524   525   526   527   528   529   530