Page 582 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 NOVEMBER 2021
P. 582

karena aian berdampak kepada semua pekerja di semua sektor, dan salah satu implikasinya
              masalah UMP yang rendah.
              Sebenarnya sejak tahun 2021 sudah tidak ada peningkapan UMP. Sementara tahun 2022 secara
              rata-rata kenaikan sangat kecil. Selain itu PP No 36 Tahun 2021 juga mengatur batas atas dan
              batas bawah penerapan UMP.

              Karena  dengan  formulasi  ini  setidaknya  sudah  ada  beberapa  provinsi  yang  tidak  bisa  naik
              UMPnya karena sudah melebihi batas atas. Sementara di sisi lain batas bawah tidak boleh lebih
              rendah dari UMP sebelumnya yang pada 2021 diputuskan tidak ada kenaikan dengan alasan
              pandemi.

              Akar masalah kenaikan yang kecil ini adalah ekses formulasi perhitungan UMP yang tidak lagi
              memasukkan  unsur  Kebutuhan  Hidup  Layak  (KHL)  sebagaimana  aturan  sebelumnya  di  PP
              78/2015 tentang Pengupahan.

              Sementara di PP 36/2021 turunan Cipta Kerja hanya fokus mempertimbangkan variabel di luar
              kebutuhan  pekerja  seperti  kondisi  ekonomi  dan  ketenagakerjaan  yang  dimaksud  meliputi
              variabel paritas daya beli, tingkat penyerapan tenaga kerja dan median upah.

              Saat ini keputusan ada di tangan gubernur untuk bisa memberikan keputusan yang terbaik, kita
              harapkan  dengan  aspirasi  yang  disampaikan  pekerja  dan  proyeksi  kenaikan  yang  dihitung
              pemerintah pusat bisa menemukan jalan tengah. UMP adalah salah satu modal untuk konsumsi
              yang menjadi variabel utama dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

              Gubernur  sebagai  kepala  daerah  bisa  menggunakan  kewenangannya  untuk  menaikan  upah
              minimum (UM) dari yang ditetapkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan.

              Karena  Undang  Undang  Nomor  11  Tahun  2020  tentang  Cipta  Kerja  memberi  kewenangan
              sepenuhnya kepada kepala daerah untuk menetapkan nilai kenaikan UM di daerahnya.

              Apalagi selama ini kenaikan UM yang ditetapkan oleh Kemenaker lebih rendah dari nilai inflasi.

              Penting sekali upah minimum di atas nilai inflasi karena jika harga barang meningkat sementara
              kenaikan pendapatan di bawah harga barang artinya ada pergerusan nilai upah riil.

              Di sisi lain, kepala daerah memiliki tanggung jawab untuk memastikan pertumbuhan ekonomi di
              daerahnya tetap terjaga setiap tahunnya. Artinya, dia mengatakan pertumbuhan ekonomi itu
              mesti didukung oleh daya beli masyarakat yang juga terjaga.

              Dengan peningkatan upah riil kenaikan upah di atas inflasi maka akan mendorong daya beli
              masyarakat,  akan  mendorong  barang  dan  jasa  lebih  cepat  lagi  di  suatu  wilayah  sehingga
              mempercepat proses produksi yang baru Namun menunggu keberpihakan Gubernur juga suatu
              hal  yang  tak  mungkin,  karena  di  sisi  lain,  sekarang  pemerintah  pusat  mengancam  bakal
              memberhentikan secara permanen gubernur atau kepala daerah yang tidak mengikuti formulasi
              penghitungan  UM  sesuai  dengan  Peraturan  Pemerintah  (PP)  Nomor  36  Tahun  2021  tentang
              Pengupahan yang menjadi turunan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

              Menurut pemerintah sanksi itu diambil untuk memastikan program strategis nasional masalah
              UM dapat ditaati oleh setiap daerah. Harapannya, penetapan UM yang mengacu pada formula
              baku  dalam  PP  itu  dapat  menciptakan  iklim  usaha  yang  berdaya  saing  dan  kondusif  bagi
              pengusaha.






                                                           581
   577   578   579   580   581   582   583   584   585   586   587