Page 649 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 NOVEMBER 2021
P. 649

Samarinda ke Gubernur Kaltim melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans)
              Kaltim.
              Ketua  Depeko  Samarinda  yang  juga  merupakan  Kepala  Dinas  Tenaga  Kerja  (Disnaker)
              Samarinda,  Wahyono  Adi  Putro  menyebutkan  hasil  kenaikan  UMK  Samarinda  sudah  melalui
              perhitungan sesuai dengan regulasi yang berlaku yaitu Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020
              tentang  Cipta  Kerja  dan  turunannya  Peraturan  Pemerintah  Nomor  36  Tahun  2021  tentang
              Pengupahan.

              "Kita  berpegangan  pada  aturan  yang  berlaku,  dari  UU  cipta  kerja,  PP  36,  terus  surat  dari
              Kemenaker itu semua kita pakai," ucapnya Selasa (23/11).

              Ia menyebutkan kenaikan UMK di Kota Samarinda berdasarkan persentase diakui tak mencapai
              1 persen, akan tetapi ia tegaskan bahwa kenaikan itu sudah beracuan dari aturan yang berlaku.
              Untuk  diketahui  UMK  Samarinda  2020  sampai  2021  ini  sebesar  Rp3.112.156,  sementara
              mengalami kenaikan pihaknya masih enggan menyampaikan kepada awak media.
              "Nominalnya ini masih mau disampaikan ke walikota dulu untuk diteruskan ke gubernur. Yang
              jelas UMK kita di atas UMP (Upah Minimum Provinsi) Kaltim," tegasnya.

              Sementara itu Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Samarinda, Nur Wahyudi yang Sth
              WAHYONO ADI juga termasuk unsur bagian dari Depeko menyebutkan bahwa kenaikan yang
              ada itu dinilai, sangat ideal, sebab dari besaran kenaikan yang ada mampu memberikan ruang
              kepada pengusaha untuk berbenah setelah menghadapi kondisi keuangan yang ikut terkena
              imbas dari pandemi Covid-19.

              "Kenaikannya di angka 0,82 persen dari UMK 2021," bebernya.

              Disinggung mengenai komitmen Apindo juga menegaskan bahwa kedepannya setelah UMK 2022
              telah ditetapkan pihaknya juga bakal melakukan monitoring terhadap perusahaan-perusahaan
              guna memastikan penerapan pemberian upah sesuai dengan besaran UMK yang nantinya akan
              ditetapkan. Akan tetapi jika di kemudian hari ditemukan perusahaan yang bandel memberikan
              upah dibawah besaran UMK, jelas pihaknya tak tinggal diam.

              "Kita  lakukan  pembinaan,  jika  tetap  tidak  menjalankan  akan  diberikan sanksi  yang  berlaku,"
              tegasnya.

              Ternyata dari kenaikan dengan besaran yang ada itu juga turut mengalami penolakan dari Ketua
              Serikat Buruh Mandiri Indonesia (SBMI) Kaltim, Fitri Lari yang masuk dalam Depeko Samarinda.
              Pandangan dari serikat buruh tersebut mengenai kenaikan upah dengan besaran yang ada justru
              kecewa. Bahkan ia mengomentari dari segi regulasi dan kondisi pandemi Covid-19.

              "Sebenarnya  tidak  berbanding  lurus  antara  kesulitan  perusahaan  dengan  konsep  upah  yang
              dibuat oleh PP 36. Kalau mau bicara kepantasan ya sejajarkan saja dengan inflasi, kan inflasi
              Kaltim atau Samarinda sekitar 1 persen lebih ya setidaknya naik lah segitu. Nah ini kan hanya
              0,8 atau Rp25 ribu," sebutnya dengan lantang. (ve)















                                                           648
   644   645   646   647   648   649   650   651   652   653   654