Page 23 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 DESEMBER 2019
P. 23

Formulasi ini tentu saja berpotensi memberikan kekecewaan bagi para angkatan
               kerja yang sudah berharap banyak pada program ini. Mereka yang sudah
               membayangkan akan mendapat insentif tiap bulan selama masa menunggu
               mendapat kerja sebagaimana yang dibayangkan saat kampanye Pilpres lalu.
               Sementara alokasi anggaran untuk pengisian survey sebesar Rp 150 ribu.
               Sedangkan untuk biaya sertifikasi, meskipun sudah mendapat subsidi dari
               pemerintah, subsidinya mencapai Rp 900 ribu.

               Potensi Masalah Implementasi
               Di luar persoalan bentuk insentif yang tidak sesuai harapan, ada beberapa potensi
               permasalahan yang muncul dalam implementasi progam ini di tataran operasional.
               Pertama adalah masalah pendataan yang menjadi sangat krusial karena peserta
               program Kartu Pra Kerja ini hanya 2 juta, sementara jumlah pekerja di Indonesia
               sangat besar. Sangat mungkin mereka yang tidak terhitung sebagai penganggur
               pada saat ini, adalah mereka yang bekerja di sektor informal atau semi informal
               (ojek online) hanya sebagai pekerjaan antara untuk mendapatkan pekerjaan yang
               lebih baik. Dengan demikian diperlukan pendataan dan seleksi untuk menentukan
               jumlah peserta yang 2 juta.

               Proses pendataan dan seleksi yang tidak akurat, tanpa menggunakan basis data
               yang baik apalagi jika tidak transparan bisa menimbulkan masalah ketidaktepatan
               sasaran peserta. Belajar dari program seperti BPJS Kesehatan yang ternyata di
               dalamnya terjadi ksemrawutan data khususnya data untuk peserta Penerima
               Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah hingga BPKP pun meminta pihak BPJS
               melakukan cleansing data terhadap lebih dari 10 juta data peserta. Jika proses
               pendataan peserta tidak dilakukan dengan baik, pada akhirnya program ini bisa
               salah sasaran dan dinikmati oleh mereka yang tidak berhak menerimanya. Apalagi
               kalau kemudian program ini digunakan untuk kepentingan politik karena adanya
               unsur finansial yang diberikan kepada peserta. Maka potensi program ini akan tidak
               efektif dalam mengatasi persoalan pengangguran akan semakin nyata.

               Kedua adalah masalah tata kelola program. Project Management Office (PMO) dari
               program ini yang berada di Kementerian Koordinator Perekonomian tentu saja layak
               dipertanyakan. Bagaimana mungkin setingkat kementerian koordinator mengurusi
               hal yang sangat teknis sampai dengan pendataan. Kementerian Tenaga Kerja yang
               memang bergelut dengan masalah tenaga kerja, pengangguran, pelatihan bagi
               pekerja tentu saja lebih tepat menjadi pengelola dan pelaksana program ini. Selain
               lebih mudah berkoordinasi denga Dinas Tenaga Kerja di propinsi maupun
               kabupaten/kota, Kementerian Tenaga Kerja yang memiliki unit-unit teknis pelatihan
               tentu juga bisa lebih memudahkan pengelolaan program ini yang didalamnya ada
               unsur pelatihan dan sertifikasi.

               Bukankah program nasional seperti Program Keluarga Harapan (PKH) juga dikelola
               oleh Kementerian Sosial ? Demikian juga dengan program yang sifatnya teknis
               operasional lain yang dikelola oleh Kementerian teknis. Akan lebih baik jika
               kementerian koordinator lebih fokus pada masalah koordinasi di bidang
               perekonomian yang masih sering kacau dan tidak sinkron ? Kasus-kasus impor yang



                                                       Page 22 of 59.
   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28