Page 52 - Bahasa-Indonesia-BS-KLS-V
P. 52

Bagaimana awal ketertarikan Mas Eko untuk menari?

                    Tadinya sih dipaksa bapak dan ibu untuk ikut menari bersama kakek. Setelah
                    kakek meninggal, saya diberi les privat di tempat Pak Paijan. Kemudian dari Pak
                    Paijan, saya beralih ke Pak Pahari di Karang Lor. Beliau salah satu tokoh tari juga
                    yang ada di Magelang.

                    Setelah itu, ketika masuk SMEA saya setengah berhenti menari karena malu

                    dibilang seperti cah wedok (anak perempuan) kalau menari. Tapi, di kelas tiga
                    saya harus memilih antara bermain voli atau menari lagi. Akhirnya saya bertemu
                    dengan tari lagi. Waktu itu saya bertemu dengan Bu Hartik, istri Pak Paijan
                    yang mengajar di SMEA. Dari mereka, saya bertemu dengan Pak Alit Maryono,
                    seorang tokoh tari di Magelang juga. Akhirnya saya mendapat motivasi dari Pak

                    Alit dan guru-guru sebelumnya.

                    Kita mendirikan sanggar tari di Magelang, namanya Sanggar Pitaloka. Sanggar
                    ini tidak hanya melestarikan tapi juga mengajarkan regenerasi tarian-tarian
                    tradisi kita seperti gaya Surakarta, gaya Yogya, maupun gaya-gaya Pak Bagong.
                    Mereka yang menari adalah anak-anak SD, SMP, dan SMA. Dari situlah cikal

                    bakal saya memutuskan untuk terus di tari. Akhirnya saya ambil kuliah di STSI
                    Solo yang sekarang sudah menjadi ISI.





                    Apa yang membuat Mas Eko yakin dengan pilihan berkarier sebagai penari?

                    Saya belajar silat Bima, budaya Indonesia Mataram. Kebetulan di keluarga kami

                    anak-anak laki-laki diwajibkan untuk ikut silat. Tapi pada saat yang sama entah
                    kenapa kakek itu ingin cucu-cucunya juga ikut belajar menari. Walaupun yang
                    berhasil cuma saya sekarang ya. Dari awal satu keluarga itu lelaki semua latihan,
                    ya latihan menari, ya latihan silat. Tapi yang menjadi penari sungguhan cuma
                    saya, tidak ada yang lain.

                    Saya pikir karena pada saat itu, tahun-tahun 80-an dan 90-an, konotasi tari

                    masih dianggap sesuatu yang dilakukan atau dikerjakan dan dipentaskan oleh
                    perempuan. Saya masih merasa yakin saja kalau akhirnya tari dan silat itu saling
                    berkaitan. Apalagi ketika saya masuk STSI, saya baru sadar ketika bertemu Pak
                    Sardono dan tokoh tari yang lain.

                    Saya merasa profesi saya sekarang dengan latar belakang yang sama dari

                    keluarga yang sama, bagaimana Mas Don juga belajar silat dari kecil. Akhirnya
                    saya justru merasa beruntung karena dituntun di jalan yang benar. Dari silat yang






              42    Bahasa Indonesia | Anak-Anak yang Mengubah Dunia | untuk SD/MI Kelas VI
   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57