Page 53 - Bahasa-Indonesia-BS-KLS-V
P. 53

sifatnya maskulin kemudian disinggungkan dengan sesuatu yang lebih feminin,

                       lebih halus dan lebih terasa. Ini sebenarnya sebagai pondasi yang membuat saya
                       yakin kalau tari memang pilihan saya.




                       Bisa diceritakan pengalaman menjadi penari latar di tur Madonna?

                       Saya rasa dari budaya yang bisa saya kenalkan dan tampilkan itulah yang pada
                       akhirnya membawa saya dipilih di tur Madonna. Memang waktu itu saya menari
                       memperagakan tarian Bali yang saya gabung dengan silat. Kemudian tarian
                       Minang yang saya gabungkan dengan Halmahera Barat. Selanjutnya tarian

                       Maluku yang saya gabungkan dengan tarian Aceh. Pada saat itu Madonna sangat
                       mengakui bahwa Indonesia itu luar biasa keragaman keseniannya.

                       Audisi yang saya ikuti di Los Angeles (LA) itu pesertanya ada sepuluh ribuan.
                       Yang dipilih cuma enam yang dari LA. Kemudian yang dari New York (NY) itu
                       juga sekitar enam ribuan, dipilih cuma empat. Kemudian digabung dari LA enam

                       dan dari NY empat. Ditambah untuk cadangan dua orang. Penari yang paspornya
                       non-Amerika cuma saya.

                       Pengalaman itu pengalaman yang sangat berharga, sangat penting dalam karier
                       dan hidup saya. Tapi saya harus melangkah maju. Mungkin dari situ saya justru
                       bisa meneruskan dan membagikan pengalaman ini untuk teman-teman yang lain.




                       Apa kesibukan Mas Eko sekarang?

                       Saya baru mengeluarkan buku. Judulnya Ikat Kait Impulsif Sarira. Buku ini dari

                       disertasi saya tentang tari kontemporer Indonesia. Di dalam kesimpulan di buku
                       ini, saya menulis bahwa proses kreatif dari tari kontemporer Indonesia ada tiga:
                       mengunjungi kembali, mempertanyakan kembali, dan menginterpretasi kembali
                       tradisi kita.

                       Saya selalu bilang bahwa saya beruntung dalam hal tari tradisional, kita

                       mempunyai seniman kontemporer. Kalau tidak, tarian tradisional itu hanya
                       akan ada di museum, dan menjadi barang eksotis saja. Hanya akan dipuji, “Wah,
                       cantik.” Lalu selesai begitu saja. Nah, tugas seniman tari kontemporer inilah
                       yang menciptakan gagasan baru untuk menjembatani supaya tari tradisional kita
                       tidak hanya dianggap sebagai barang eksotis melulu setiap saat.


                       Diolah dari:
                       https://lokadata.id/video/panggung-dunia-eko-supriyanto

                       https://lokadata.id/artikel/tafsir-tari-eko-supriyanto



                                                                 Bab 2 | Musisi Indonesia di Pentas Dunia        43
   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58