Page 61 - AHASLA.indd
P. 61
sesuai, tidak beralasan, tidak berujung, tidak membawa
manfaat.” 72
Dua unsur pokok dari omong kosong:
1. Bertujuan untuk melakukan pembicaraan tidak
berguna seperti Perang Bharata, Penculikan Sinta,
dsb (bhāratayuddha-sītāharaṇādi-niratthakakathā-
purekkhāratā)
2. Melakukan pembicaraan seperti itu
(tathārūpīkathākathanaṃ)
Besar kecilnya kesalahan bergantung pada tingkat
kegemarannya.
Banyak topik yang dapat diperbincangkan dalam kehidupan
ini, namun tidak semuanya layak dan membawa kemajuan
batin. Pembicaraan yang berkualitas rendah ini disebut
pembicaraan binatang (tiracchāna-kathā), pembicaraan
yang merembet ke mana-mana tetapi tidak mengarah ke
atas (kehidupan yang mulia).
Buddha sangat memuji kata-kata yang bermanfaat sebagai
landasan tercapainya kearifan dalam kehidupan, “Dengan
menahan diri dari obrolan tak berguna, ia berbicara pada
waktu yang sesuai, dengan benar, tepat, tentang kebenaran
dan kedisiplinan, kata-katanya layak dihargai, yang tepat
pada waktunya, masuk akal, diucapkan dengan jelas, dan
berhubungan dengan tujuan.” 73
72 A 5.283
73 D 1.4
AṬṬHASĪLA 51