Page 41 - Aku dan Ana
P. 41
Aku terus melarang Ana tapi dia tetap saja
terus menatapku, lalu tak lama setelah itu, dia
pun tersenyum aneh. Ia memiringkan
kepalanya dan terus menatapku. Lalu setelah
itu, senyumnya disusul dengan tawa yang
menyeramkan.
"Abang, nikah yuk!"
"Hah? Hei Ana!" ucapku ketakutan.
..., Karena kurasa Ana sedang
kerasukan, aku pun menamparnya agak keras,
berharap ruh yang merasukinya keluar.
"Aduuuuh, saaakiiiit. Kenapa nampar
akuuuuu!"
"Alhamdulillah, akhirnya keluar juga jinnya,
hahaha."
"Huhuhu, tega banget nampar aku, sakit
tau."
"Lagian, nakut-nakuti aku segala."
36
Aku dan Ana | Nur Wahid