Page 46 - Aku dan Ana
P. 46
"Hahaha, masa hilang ingatan malah makan
obat anemia, hadeh, Ana-Ana," ucapku berjalan
menghampiri Ana. Kutatap ia sejenak lalu
kembali bertanya, "beneran kita udah nikah?
Kok aku lupa ya, hmm."
"Kalau nggak percaya, sini aku tampar."
Ana berjalan ke arahku dan bersiap untuk
menampar. Lalu, ketika tangannya sudah
melayang ke arahku, tiba-tiba dia berhenti lalu
menyentuh pipiku.
"Ada apa?" tanyaku kepadanya.
"Bangun Sayang! bangun!"
"Bangun?" aku menatap Ana lalu tiba-tiba
suara Ana perlahan berubah, yang tadinya
lembut malah jadi tegas banget.
"Hei, bangun lah, udah mau pulang tuh,"
ucap seseorang.
41
Aku dan Ana | Nur Wahid