Page 428 - Artikel Prosiding SEMNAS PGSD UMC 2022
P. 428
merupakan seperangkat rencana dan sebuah pengaturan berkaitan dengan tujuan, isi, bahan ajar dan
cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai sebuah tujuan pendidikan nasional.
Pelaksanaan sistem pendidikan perlu adanya sebuah kebijakan yang mengarah pada
perubahan dan peningkatan mutu. Sekolah akan menjadi pranata sosial yang memiliki peran di
dalam pengembangan sumber daya manusia yang bermutu dan berkualitas sebagai bagian dalam
proses pembangunan bangsa, terutama dalam bidang pendidikan. Oleh sebab itu pendidikan di
Indonesia harus terus ditingkatkan dan harus sejalan dengan perubahan zaman yang semakin besar
tantangan yang harus dihadapi oleh setiap satuan pendidikan dalam era globalisasi abad 21.
Kurikulum di Indonesia telah mengalami perkembangan dan peralihan sebanyak sepuluh
kali, mulai dari kurikulum 1947 atau disebut Rentjana Pelajaran 1947 hingga kurikulum 2013 yang
masih digunakan sampai sekarang. Perubahan kurikulum tersebut sebagai upaya pemerintah dalam
mewujudkan pendidikan yang bermutu dan berkualitas, seperti dalam undang-undang RI Nomor 20
Tahun 2003 dalam Saminanto (2013: 1) tentang sistem pendidikan Nasional. Pasal 1, ayat 1 yaitu:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”.
Setiap pergantian kurikulum pendidikan di Indonesia tentunya memiliki perubahan dan
perbedaan sistem yang berlaku di dalamnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam setiap pergantian
kurikulum terdapat kelebihan dan kelemahan, yang mungkin berasal dari landasan, komponen,
evaluasi, prinsip, metode, model ataupun dalam pengembangan kurikulumnya. Namun meskipun
kurikulumnya sudah berganti, seringkali masih dijumpai dalam proses pembelajaran dengan
pendekatan Teacher Centered yaitu pendekatan yang terpusat pada guru, guru mengambil peran
yang dominan dibandingkan peserta didik sehingga menimbulkan pembelajaran yang tidak aktif.
Dalam pembelajaran seperti itu hanya membentuk kecerdasan kognitif saja, sedangkan aspek
afektif dan psikomotoriknya terabaikan.
Pembelajaran yang kurang menyenangkan dan tidak aktif sangat berpengaruh pada minat
belajar peserta didik dan hasil belajar yang dicapainya. Maka dari itu untuk terus memperbaiki
kelemahan tersebut, disusunlah kurikulum baru yang diharapkan dapat menyempurnakan
kelemahan pada kurikulum sebelumnya, dapat memenuhi kebutuhan pendidikan dan masyarakat,
serta dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Kurikulum 2013 menjadi kurikulum
pengganti KTSP yang telah berlaku sampai akhir 2012 lalu. Kurikulum 2013 masuk dalam masa
percobaannya di tahun 2013 dengan menjadikan beberapa sekolah menjadi sekolah percobaan. Di
Tahun 2014, kurikulum 2013 sudah ditetapkan di kelas I, II IV dan V. Adapun tujuannya sebagai
bentuk usaha untuk membentuk masyarakat yang mempunyai kemampuan dan agar bisa menjalani
kehidupan serta sebagai warga negara yang beriman, dan kreatif (Andriani, Fania, Fauziyyah, H.,
& Prihantini, 2021)
Cirikhas dalam kurikulum 2013 yaitu pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik adalah
salah satu alternatif dari model pembelajaran yang dapat mewujudkan impian tersebut. Model
pembelajaran tematik akan mengembangkan kemampuan belajar dalam aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik sekaligus. Peserta didik sebagai subjek pembelajaran yang diperhatikan (student
centered), sehingga dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan joyful learning
disesuaikan dengan psikologi peserta didik sekolah dasar.
Melalui pembelajaran tematik lebih menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada
peserta didik. Dengan diterapkannya pembelajaran tematik dalam akan membuka ruang yang luas
bagi peserta didik untuk mengalami sebuah pengalaman belajar yang lebih bermakna, berkesan dan
menyenangkan. Dalam pembelajaran tematik, pembelajaran tidak semata-mata mendorong peserta
419

