Page 206 - CERPEN 9A - Copy
P. 206
untuk mengejar Dior dan menyelamatkan teman-temannya. Namun, setiap usahanya
tampaknya bertemu dengan hambatan tak terlihat. Suara bayangan itu kembali
bergema, “Kamu tidak bisa melarikan diri dari takdir. Pilihanmu telah membuatmu
terjebak di sini.”
Sementara itu, Michael merasa kehilangan kendali atas tubuhnya, seolah
dihisap ke dalam kegelapan yang tak terduga. Hansen dan Alfredo terbaring tanpa
kehidupan, dan ketegangan di udara semakin terasa. “Berikan apa yang diminta, atau
semua akan lenyap,” desis bayangan itu.
Lauren merenung sejenak, dihadapkan pada keputusan yang sulit. Kehidupan
teman-temannya bergantung pada pilihannya. Dalam keheningan yang menakutkan, ia
bersiap untuk membayar harga yang mengerikan, menyadari bahwa keputusannya
akan meninggalkan bekas yang tak terhapuskanLauren menangis dalam keputusasaan,
terjebak dalam dilema yang memilukan. Bayangan gelap semakin mendekat,
menguasai ruang dengan kehadiran yang mencekam. “Waktumu semakin habis,”
bisiknya, dan suasana semakin dipenuhi oleh keheningan menakutkan.
Saat Lauren bersiap untuk mengorbankan dirinya, sebuah cahaya samar
muncul di tengah-tengah kegelapan. Sebuah suara lembut memecah keheningan,
“Jangan kau lakukan ini, Lauren.” Dior muncul dari kegelapan, namun matanya
memancarkan kegelapan yang sama dengan bayangan itu.
Lauren bingung, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dior menunjuk pada
bayangan gelap, “Ini adalah harga yang harus dibayar. Pilihlah, teman atau takdirmu.”
Sebuah keputusan sulit harus diambil Lauren, antara menyelamatkan teman-temannya
atau menghadapi konsekuensi yang mengerikan.
Lauren, terjebak dalam konflik batin, meratapi keputusannya. Dior dan
bayangan gelap menantangnya, menciptakan atmosfer tegang di dalam gereja yang
gelap gulita. Tanpa aba-aba, Lauren memutuskan untuk menghadapi takdirnya sendiri.
206

