Page 131 - combinepdf_Neat
P. 131
Kegiatan Belajar 2
Perkembangan Bahasa Moral dan Agama
Salah satu pandangan mengenai perkembangan moral dikemukakan oleh Lawrence Kholberg. Kohlberg
melihat remaja sebagai suatu masa yang sangat penting dalam perkembangan penalaran moral dikarenakan
perubahan kognisi seperti yang dikemukakan oleh Piaget. Kholberg mempelajari penalaran moral dengan
meminta para remaja untuk memecahkan masalah dilema moral. Dilema moral merupakan cerita yang dibuat
Kholberg untuk mencari tahu sifat dasar panalaran moral. Berdasarkan respon terhadap dilema moral tersebut
perkembangan moral dikelompokan menjadi tahap pre konvensional, konvensional dan post konvensional.
Kholberg percaya bahwa seluruh level perkembangan moral terjadi secara berurutan sesuai dengan usia. Sebelum
mencapai usia 9 tahun, kebanyakan anak akan mengalami prakonvensional dalam menghadapi dilema moral.
Pada awal remaja, penalaran akan dilakukan dengan cara yang lebih konvensional, kemudian pada masa awal
dewasa, sejumlah kecil individu berpikir dengan cara post konvensional.
Mitchell menyebutkan ada lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja yaitu 1)
Pandangan moral individu semakin lama semakin abstrak dan kurang konkret ; 2) Keyakinan moral lebih berpusat
pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah; 3) Penilaian moral menjadi semakin kognitif dan berani
mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya; 4) Penilaian moral menjadi kurang
egosentris; 5) Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal. Remaja dapat memandang masalahnya dari
berbagai sisi dan menyelesaikannya dengan mengambil banyak faktor sebagai dasar pertimbangan. Remaja
mampu mempertimbangkan semua kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah dan
mempertanggungjawabkannya berdasarkan suatu hipotesis atau proporsi
Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan, sebagaiman dijelaskan
oleh Adams & Gullotta (1983), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu
membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bias memberikan penjelasan
mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi
remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya.
Dibandingkan dengan masa awal anak-anak misalnya, keyakinan agama remaja telah mengalami
perkembangan yang cukup berarti. Kalau pada masa awal anak-anak ketika mereka baru memiliki kemampuan
berpikir simbolik. Tuhan dibayangkan sebagai person yang berada diawan, maka pada masa remajamereka
mungkin berusaha mencari sebuah konsep yang lebih mendalam tentang Tuhan dan eksistensi. Perkembangan
pemahaman remaja terhadap keyakinan agama ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya.
Oleh karena itu meskipun pada masa awal anak-anak ia telah diajarkan agama oleh orang tua mereka,
namun karena pada masa remaja mereka mengalami kemajuann dalam perkembangan kognitif, mereka mungkin
mempertanyakan tentang kebenaran keyakinan agama mereka sendiri. Sehubungan dengan pengaruh
perekembangan kognitif terhadap perkembangan agama selama masa remaja ini.
Ega Asnatasia Maharani, M.Psi., Psikolog. Intan Puspitasari, S.Psi., MA
Psikologi Peserta Didik

