Page 126 - combinepdf_Neat
P. 126
Kegiatan Belajar 1
Perkembangan Fisik motorik dan Kognitif
Perkembangan Fisik Motorik
. Ciri kelamin sekunder
Ciri kelamin sekunder pada anak perempuan adalah membesarnya buah dada, pinggul lebih lebar dari pada
lebar bahu, tumbuh rambut disekitar alat kelamin, tumbuh rambut di ketiak, dan suara bertambah nyaring. Ciri
kelamin kedua pada anak laki-laki adalah tumbuh kumis dan jenggot, muncul jakun, nada suara membesar,
bahu melebar lebih besar daripada pinggul, timbul rambut di sekitar alat kelamin, serta perubahan jaringan
kulit menjadi lebih lebih kasar dan pori-pori membesar. Ciri-ciri kelamin sekunder inilah yang membedakan
bentuk fisik anak laki-laki dan perempuan. Ciri ini pula yang sering menjadi daya tarik antar jenis kelamin.
Pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan perkembangan ciri kelamin yang primer dan keduanya akan
mencapai taraf kematangan pada tahun pertama atau tahun kedua masa remaja.
Perkembangan dan pertumbuhan fisik tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor yang terdiri dari
faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal mencakup 1) Sifat jasmaniah yang diwarisakan dari orang
tuanya. Anak yang ayah dan ibunya bertubuh tinggi cenderung lebih lekas menjadi tinggi dibandikan anak yang
lahir dari orangtua yang bertubuh pendek; 2) Kematangan yang berkaitan dengan kesiapan organ-organ individu
yang salah satunya dipengaruhi oleh produksi hormon-hormon dari kelenjar. Sementara itu faktor eksternal
seperti 1) Kesehatan, individu yang sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan terhambat; 2) Makanan,
individu yang kurang gizi pertumbuhan akan terhambat,sebaliknya yang cukup gizi pertumbuhannya pesat; dan 3)
Stimulasi lingkungan, individu yang tubuhnya sering dilatih percepatan pertumbuhannya akan berbeda dengan
yang tidak pernah mendapat latihan.
Perkembangan Kognitif
Pada masa remaja ini terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan
dilingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi yang memungkinkan remaja untuk berpikir secara
abstrak. Di masa ini terjadi reorganisasi lingkaran saraf frontal lobe yaitu belahan otak bagian depan sampai pada
belahan sentral. Frontal lobe berfungsi dalam aktivitas kognitif tingkat tinggi, seperti kemampuan merumuskan
perencanaan strategis atau kemampuan mengambil keputusan. Perkembangan tersebut sangat berpengaruh
terhadap kemampuan kognitif remaja sehingga mereka mengembangkan kemampuan penalaran yang
memberinya suatu dimensi pertimbangan moral dan kesaran sosial yang baru (Desmita, 201).
Ditinjau dari perspektif teori perkembangan kognitif Piaget, remaja berada pada tahap operasional
formal (formal operational thought) yaitu suatu tahap yang dimulai dari usia sekitar 11 atau 12 tahun dan
berlanjut hingga dewasa. Pada tahap ini individu dapat berpikir secara abstrak dan membuat hipotesis. Selain itu
individu mampu memprediksi sesuatu yang mungkin atau akan terjadi dan mampu memecahkan permasalahan
secara sistematis.
Ega Asnatasia Maharani, M.Psi., Psikolog. Intan Puspitasari, S.Psi., MA
Psikologi Peserta Didik

