Page 139 - combinepdf_Neat
P. 139
Kegiatan Belajar 1
Paradigma Masa Dewasa
Transisi Masa Remaja Ke Masa Dewasa
Bagi kebanyakan individu, menjadi orang dewasa melibatkan periode transisi yang panjang. Transisi dari
remaja ke dewasa terjadi dari usia 18-25 tahun yang ditandai oleh eksperimen dan eksplorasi. Pada titik ini
individu masih fokus mengeksplorasi jalur karier yang ingin mereka ambil, ingin menjadi individu seperti apa,
dan gaya hidup seperti apa yang mereka inginkan; hidup melajang, hidup bersama, atau menikah.
Arnett (2006) mendeskripsikan lima ciri dari orang yang beranjak dewasa sebagai berikut:
Ÿ Eksplorasi identitas, khususnya dalam relasi romantis dan pekerjaan. Dimana dalam masa dewasa
adalah masa dimana seseorang tersebut terjadi perubahan penting yang menyangkut identitas
Ÿ Ketidakstabilan. Perubahan tempat tinggal sering terjadi selama masa dewasa awal, sebuah masa
dimana juga sering terjadi ketidaksabilan dalam hal relasi romantis,pekerjaan, dan pendidikan.
Ÿ Self-focused (terfokus pada diri). Individu yang berada dimasa beranjak dewasa cenderung terfokus
pada diri sendiri, dalam arti mereka kurang terlibat dalam kewajiban sosial, melakukan tugas dan
berkomitmen terhadap orang lain, serta mengakibatkan mereka memiliki otonomi yang besar dalam
mengatur kehidupannya sendiri
Ÿ Feeling in-between (seperti berada di peralihan). Banyak individu yang beranggapan umurnya sudah
cukup dibilang dewasa namun tidak mau dianggap sebagai seorang remaja lagi. Mereka lebih memilih
untuk menjadi individu yang terlihat dewasa, berkomitmen dan sangat berpengalaman.
Ÿ Usia dengan berbagai kemungkinan,sebuah masa dimana individu memiliki peluang untuk mengubah
kehidupan mereka. Masa beranjak dewasa merupakan masa yang memiliki dua kemungkinan:
(1) banyak orang yang sedang beranjak dewasa yang optimis dengan masa depannya
(2) bagi mereka yang mengalami kesulitan ketika bertumbuh besar, masa beranjak dewasa merupakan
masa yang pas untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik lagi.
Dalam sebuah studi longitudinal, Mastern dkk (2006) menemukan bahwa orang dewasa muda yang
menjadi kompeten setelah mengalami kesulitan saat masa tumbuh kembangnya menjadi lebih cerdas, mengalami
kualitas pengasuhan yang lebih baik, dan kemungkinannya lebih kecil untuk tumbuh dalam kemiskinan atau di
lingkungan dengan penghasilan rendah dibanding rekan-rekannya yang tidak kompeten ketika menjadi orang
dewasa muda.
Transisi Dari Sekolah Menengah Ke Perguruan Tinggi
Bagi kebanyakan individu di negara maju, lulus dari sekolah dan melanjutkan kuliah merupakan aspek
penting dalam transisi menuju kedewasaan (Bowman, 2010). Sama seperti transisi dari sekolah dasar ke sekolah
menengah yang juga menyebabkan perubahan dan stress, begitu juga dengan transisi dari sekolah menengah atas
ke perguruan tinggi. Dua masa transisi tersebut punya banyak kesamaan. Dari sebagai senior di sekolah menengah
atas, menjadi anak baru di kampus mengulang fenomena top-dog, dimana individu yang tadinya termasuk dalam
kelompok siswa yang paling muda dan lemah yang sudah terjadi sebelumnya ketika masa kedewasaan dimulai.
Bagi banyak siswa, transisi dari sekolah menengah atas ke perguruan tinggi melibatkan pergerakan ke arah
struktur yang lebih besar dan impersonal; interaksi dengan teman-teman dari latar belakang geografis dan etnis
yang lebih beragam; peningkatan focus terhadap pencapaian beserta asesmennya.
Ega Asnatasia Maharani, M.Psi., Psikolog. Intan Puspitasari, S.Psi., MA
Psikologi Peserta Didik

